![]() |
| Air Kolam Lele = Pupuk Nitrogen Gratis Terkaya untuk Tanaman Sayurmu |
Setiap kali mengganti air kolam lele, kebanyakan peternak langsung membuangnya ke selokan atau got. Air keruh itu dianggap limbah yang tak ada nilainya, bahkan sering dituding sebagai penyebab bau tak sedap di lingkungan sekitar. Padahal, di balik warna hijaunya yang pekat, tersimpan kekayaan nutrisi yang selama ini luput dari perhatian. Artikel ini akan membuktikan, dengan dukungan penelitian ilmiah dari beberapa universitas di Indonesia, bahwa air kolam lele adalah pupuk organik cair paling kaya yang bisa kamu dapatkan secara gratis di halaman rumah sendiri.
- Mengapa Air Kolam Lele Disebut "Emas Cair"?
- Siklus Nitrogen di Dalam Kolam Lele
- Kandungan Nutrisi: Air Kolam Lele vs Air Keran
- Respon Tanaman Terhadap Air Kolam Lele
- Air Kolam Lele vs Pupuk Urea: Mana Lebih Unggul?
- Kelebihan dan Kekurangan
- Cara Membuat Pupuk Organik Cair dari Air Kolam Lele
- Dosis dan Cara Aplikasi yang Tepat
- Kesimpulan
Jangan Buang Air Kolam Lele! Ini Pupuk Organik Cair Terkaya yang Ada di Halaman Rumahmu
Kolam lele yang sudah seminggu tidak diganti airnya akan berubah warna menjadi hijau kecokelatan, berbau amis, dan terasa lengket di tangan. Insting pertama kita adalah segera membuang air itu sejauh mungkin. Tapi tunggu dulu.
Para peneliti dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, dan Universitas Islam Riau telah membuktikan melalui serangkaian eksperimen laboratorium bahwa air limbah kolam lele mengandung nitrogen aktif rata-rata 55,2 ppm, fosfor 6,4 ppm, dan kalium 7,0 ppm — jauh melampaui kandungan hara air keran perkotaan yang hampir mendekati nol.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ini berarti setiap ember air kolam lele yang kamu buang ke selokan setara dengan membuang pupuk cair siap pakai secara cuma-cuma.
Siklus Nitrogen di Dalam Kolam Lele: Proses Ajaib yang Terjadi Tanpa Kamu Sadari
Sebelum membahas cara menggunakannya, penting untuk memahami mengapa air kolam lele bisa sekaya itu. Jawabannya tersimpan dalam siklus nitrogen yang berlangsung diam-diam di setiap kolam budidaya lele.
Dari Pakan ke Amonia: Titik Awal Segalanya
Ikan lele adalah makhluk yang tidak efisien dalam mencerna protein. Dari total nitrogen yang terkandung dalam pakan yang mereka makan, hanya sekitar 20–30% yang berhasil diserap oleh tubuh mereka. Sisanya, yakni 70–80% nitrogen, dibuang kembali ke dalam air dalam bentuk feses padat dan amonia terlarut yang dikeluarkan melalui insang dan urine.
Amonia dalam konsentrasi tinggi bersifat racun bagi ikan. Jika tidak ada mekanisme pengurai, kolam lele akan menjadi lautan racun dalam hitungan hari.
Pahlawan Tak Kasat Mata: Bakteri Nitrifikasi
Di sinilah alam bekerja dengan sangat cerdas. Ekosistem kolam yang sehat secara alami dihuni oleh dua kelompok bakteri nitrifikasi autotrof yang bekerja secara berantai untuk mengurai amonia berbahaya menjadi bentuk nitrogen yang aman — bahkan sangat berguna untuk tanaman.
Tahap Pertama – Nitrosomonas dan Nitrosococcus (Bakteri Pengoksidasi Amonia / AOB)
Bakteri ini mengubah amonia (NH₃) menjadi nitrit (NO₂⁻). Reaksi ini bersifat aerobik, artinya membutuhkan oksigen terlarut.
Tahap Kedua – Nitrobacter dan Nitrospira (Bakteri Pengoksidasi Nitrit / NOB)
Nitrit yang masih bersifat tidak stabil kemudian dioksidasi oleh kelompok bakteri ini menjadi nitrat (NO₃⁻) — bentuk nitrogen yang paling stabil, tidak berbau, dan paling mudah diserap oleh akar tanaman.
Proses dua tahap inilah yang secara ilmiah disebut nitrifikasi alami. Dan kolam lele yang sehat adalah reaktor biologis nitrifikasi yang bekerja sepanjang waktu, tanpa biaya, tanpa listrik.
Kondisi Optimal Nitrifikasi
Bakteri nitrifikasi bekerja paling efektif pada kondisi berikut:
- pH air: 6,5 – 8,5
- Suhu: 25°C – 32°C (kondisi ideal tropis Indonesia)
- Oksigen Terlarut (DO): di atas 4 mg/L
Kabar baiknya, kondisi iklim tropis Indonesia secara alami sudah sangat mendukung aktivitas bakteri-bakteri ini. Artinya, kolam lele di pekarangan rumah kamu sudah menjadi pabrik pupuk nitrogen alami yang bekerja setiap hari.
Kandungan Nutrisi: Air Kolam Lele vs Air Keran, Perbandingan yang Mengejutkan
Air keran yang kita gunakan sehari-hari memang bersih dan aman diminum. Tapi untuk tanaman? Ia miskin nutrisi dan bahkan membawa zat yang merugikan kehidupan mikroba tanah.
Air keran perkotaan mengandung klorin bebas atau kloramin yang ditambahkan sebagai disinfektan. Zat ini memang mematikan patogen di air minum, tetapi ia juga membunuh bakteri baik yang ada di tanah dan di sekitar akar tanaman. Kandungan nitrogen dalam air keran biasanya di bawah 1 ppm, bahkan sering kali tidak terdeteksi sama sekali.
Bandingkan dengan air kolam lele berdasarkan riset laboratorium Gustiar dkk. (2022) yang dipublikasikan dalam AGRITROPICA: Journal of Agricultural Sciences:
| Parameter | Air Keran (Tap Water) | Air Kolam Lele Murni | Diperkaya Jeroan Ikan | Diperkaya Kotoran Sapi |
|---|---|---|---|---|
| Nitrogen (N) | < 1 ppm | 55,2 ppm | 220,0 ppm | 187,4 ppm |
| Fosfor (P) | Tidak terdeteksi | 6,4 ppm | 14,8 ppm | 12,1 ppm |
| Kalium (K) | Tidak terdeteksi | 7,0 ppm | 18,3 ppm | 22,7 ppm |
| Kalsium (Ca) | Sangat rendah | 14,2 ppm | 19,5 ppm | 17,0 ppm |
| Besi (Fe) | Sangat rendah | 0,4 ppm | 1,1 ppm | 0,9 ppm |
| Kandungan Klorin | Aktif (berbahaya bagi mikroba tanah) | Bebas klorin alami | Bebas klorin alami | Bebas klorin alami |
| Aktivitas Biologis | Steril / minim mikroba baik | Kaya bakteri nitrifikasi dan probiotik | Sangat padat mikroba heterotrof | Sangat padat mikroba penyubur tanah |
Data di atas menunjukkan satu hal yang sangat jelas: air kolam lele bukan sekadar lebih baik dari air keran untuk tanaman — ia berada di kategori yang berbeda sama sekali. Dan jika diperkaya dengan bahan organik tambahan lewat fermentasi, kandungan nitrogennya bahkan bisa melonjak hampir empat kali lipat dari kondisi murninya.
Bukti Ilmiah: Respon Tanaman Hortikultura Terhadap Air Kolam Lele
Teori bagus memang menarik, tapi bukti lapangan jauh lebih meyakinkan. Berikut adalah rangkuman dari beberapa penelitian ilmiah yang sudah dipublikasikan di jurnal resmi terkait pengaruh air kolam lele terhadap berbagai komoditas tanaman.
1. Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Penelitian oleh Noer dkk. yang diterbitkan di Plumula: Berkala Ilmiah Agroteknologi (2025) menunjukkan peningkatan nyata pada tinggi tanaman, luas daun, dan bobot basah sawi yang mendapatkan perlakuan air limbah lele dibandingkan kontrol.
Penelitian lain dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (Begu, 2020) membuktikan bahwa fermentasi air kolam lele dengan konsentrasi 80% menghasilkan biomassa sawi yang lebih tinggi dibandingkan pemberian pupuk urea sintetis sekalipun. Ini hasil yang cukup mengejutkan: air limbah organik mengalahkan pupuk kimia andalan para petani.
2. Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L.)
Hasil riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Agroteknologi Tropika (Vol. 13, 2024) menyimpulkan bahwa aplikasi air kolam lele secara langsung dengan dosis optimal 600 ml per polibag menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun terbaik pada tanaman bayam dibandingkan kontrol tanpa perlakuan.
3. Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) — Fase Pre-Nursery
Penelitian dari Universitas Islam Riau (Abdila, 2022) mengungkap bahwa pada fase awal pembibitan kakao, pemberian air kolam lele murni sebanyak 750 ml per tanaman terbukti meningkatkan diameter batang, jumlah daun, dan volume perakaran secara signifikan. Ini penting bagi petani kakao yang ingin menghemat biaya bibit tanpa mengorbankan kualitas.
4. Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum)
Uji lapangan yang diterbitkan di ResearchGate (2025) menunjukkan bahwa kombinasi 100 mL air kolam lele + pupuk NPK menghasilkan efek sinergis yang signifikan: perluasan daun awal lebih cepat, kelembaban media tanam terjaga lebih baik, dan pasokan mikronutrien tersedia tanpa menimbulkan cekaman osmotik (stress garam) pada tanaman tomat.
5. Tanaman Gambas (Luffa acutangula L.)
Pemberian air kolam lele sebanyak 5 kali selama fase vegetatif dengan dosis 600 ml per tanaman terbukti mempercepat umur berbunga hingga rata-rata hanya 22,2 hari setelah tanam. Hasil ini signifikan bagi petani gambas yang menginginkan percepatan panen musiman.
| Komoditas | Penulis / Tahun | Dosis Optimal | Hasil Utama |
|---|---|---|---|
| Sawi | Noer dkk. (2025) | Aplikasi langsung | Peningkatan tinggi, luas daun, dan bobot basah |
| Sawi | Begu (2020) | Fermentasi 80% | Biomassa melampaui kontrol urea |
| Bayam | JATT (2024) | 600 ml/polibag | Pertumbuhan tinggi dan luas daun terbaik |
| Bibit Kakao | Abdila (2022) | 750 ml/tanaman | Diameter batang & volume akar meningkat signifikan |
| Tomat | ResearchGate (2025) | 100 ml + NPK | Efek sinergis, luas daun & mikronutrien optimal |
| Gambas | Journal UIR | 600 ml x 5 kali | Berbunga rata-rata 22,2 hari setelah tanam |
Air Kolam Lele vs Pupuk Urea: Jangan Sampai Salah Pilih
Pupuk urea memiliki kadar nitrogen 46% — jauh lebih tinggi dari air kolam lele dalam kondisi murninya. Tapi angka itu bisa menyesatkan jika tidak dipahami dalam konteks yang benar.
Risiko Urea yang Jarang Dibicarakan
Urea yang larut terlalu cepat di dalam tanah akan meningkatkan konsentrasi garam secara drastis di sekitar zona perakaran. Akibatnya, air di dalam sel akar tertarik keluar melalui proses osmosis terbalik — kondisi ini disebut plasmolisis. Hasilnya adalah daun tanaman layu dan terbakar (fenomena yang dikenal sebagai fertilizer burn) meski tanah sudah basah oleh air siraman.
Selain itu, nitrogen pada urea sangat rentan menguap menjadi gas amonia (volatilisasi) dan luruh terbawa air hujan ke lapisan tanah paling dalam melewati akar (leaching). Studi menunjukkan hingga 50% nitrogen urea bisa hilang sebelum diserap tanaman.
Keunggulan Mekanisme Air Kolam Lele
Air kolam lele bekerja dengan cara yang berbeda dan lebih aman:
- Tidak ada risiko fertilizer burn: Nitrogen hadir dalam konsentrasi organik yang encer dan seimbang, menghilangkan risiko overdosis yang mematikan tanaman.
- Memperbaiki biologi tanah: Air kolam lele membawa material organik terlarut dan mikroba fungsional yang melonggarkan struktur tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, dan mendegradasi residu kimia beracun di dalam tanah.
- Nitrat langsung tersedia: Berbeda dari pupuk organik padat yang perlu diurai dulu berbulan-bulan, nitrat di dalam air kolam lele bisa langsung diserap oleh bulu-bulu akar tanaman dalam hitungan jam.
- Mengandung unsur mikro lengkap: Besi, seng, kalsium, dan magnesium yang bersumber dari dekomposisi pakan berbahan tepung ikan — unsur-unsur yang tidak dimiliki oleh pupuk urea sama sekali.
- Membantu menekan penyakit tanaman: Mikroba baik di dalam air kolam yang matang mampu bersaing dengan jamur patogen seperti Fusarium di media tanam.
Untuk pemahaman lebih dalam tentang pupuk organik cair dari bahan-bahan di sekitar rumah, kamu bisa baca juga artikel kami: Air Cucian Sayur Untuk Tanaman Sebagai Pupuk Organik Alami yang membahas konsep serupa dengan sumber berbeda.
Kelebihan dan Kekurangan: Bersikap Jujur Sebelum Memulai
Tidak ada bahan pertanian yang sempurna. Air kolam lele pun demikian. Berikut gambaran lengkap dan jujurnya:
Kelebihan
- Ekonomi sirkular nyata: Mengubah air buangan yang semula beban polusi lingkungan menjadi input pertanian bernilai tinggi. Biaya pupuk bisa ditekan signifikan.
- Hara mikro lengkap: Kandungan besi, seng, kalsium, dan magnesium dari dekomposisi pakan ikan yang tidak bisa didapat dari urea.
- Ramah lingkungan: Tidak ada akumulasi garam atau residu kimia di tanah dalam jangka panjang.
- Memperkaya ekosistem tanah: Membawa koloni bakteri nitrifikasi dan probiotik yang menyehatkan kehidupan mikro di dalam tanah.
- Bebas biaya: Jika kamu sudah memiliki kolam lele, ini adalah pupuk gratis yang dihasilkan setiap hari.
Kekurangan dan Cara Mengatasinya
- Konsistensi hara tidak stabil: Kadar N, P, K berfluktuasi tergantung kepadatan ikan, jumlah pakan, dan intensitas sinar matahari. Solusi: Lakukan pengayaan dengan fermentasi terkontrol untuk menormalkan kandungan hara.
- Risiko amonia bebas jika tidak matang: Air dari dasar kolam anaerobik tanpa aerasi mengandung amonia bebas dan asam sulfida tinggi yang justru meracuni akar tanaman. Solusi: Gunakan air dari lapisan tengah kolam atau proses dulu melalui fermentasi aerobik.
- Bau amis dan potensi lalat: Air yang belum difermentasi sempurna dapat mengeluarkan bau yang menarik lalat. Solusi: Pastikan fermentasi berjalan minimal 10–15 hari hingga bau berubah menjadi aroma tape segar.
Cara Membuat Pupuk Organik Cair dari Air Kolam Lele Step-by-Step
Agar potensi air kolam lele bisa dimanfaatkan secara maksimal — dan kelemahan berupa bau serta amonia bebas bisa diatasi — proses fermentasi aerobik sangat direkomendasikan sebelum pengaplikasian. Berikut panduan lengkap dan terperinci yang bisa langsung kamu praktikkan:
Bahan-Bahan yang Dibutuhkan
- Air kurasan kolam lele: 15 liter (ambil dari lapisan tengah kolam, bukan dari dasar)
- Bioaktivator mikrobiologi (EM4 pertanian atau probiotik bakteri heterotrof): 300 ml
- Molase atau larutan gula merah cair: 300 gram
- Drum plastik food-grade berkapasitas 20 liter dengan tutup
- Selang aerator akuarium + batu aerasi + pompa udara kecil
- Karet gelang atau isolasi untuk menutup rapat tepi tutup drum (kecuali lubang selang aerator)
Langkah-Langkah Pembuatan
-
Siapkan drum dan isi air kolam lele.
Masukkan 15 liter air kolam lele ke dalam drum plastik 20 liter. Pastikan drum bersih dan tidak pernah bersentuhan dengan pestisida atau bahan kimia berbahaya sebelumnya. -
Tambahkan bioaktivator dan molase.
Tuangkan 300 ml EM4 pertanian ke dalam drum. Larutkan 300 gram gula merah atau molase dalam sedikit air hangat terlebih dahulu, lalu masukkan ke dalam drum. Gula merah berfungsi sebagai sumber karbon (energi) bagi bakteri agar proses fermentasi berlangsung aktif dan tidak kehabisan bahan bakar. -
Pasang selang aerator.
Masukkan selang aerator beserta batu aerasi ke dasar drum. Hubungkan ujung selang lainnya ke pompa udara kecil yang bisa dibeli di toko akuarium dengan harga sangat terjangkau. Nyalakan pompa. Pastikan gelembung udara keluar merata dari batu aerasi di dasar drum. -
Tutup drum dan tandai tanggal mulai.
Tutup drum rapat-rapat. Berikan lubang kecil hanya untuk selang aerator. Tempel label tanggal mulai fermentasi di badan drum. -
Fermentasi selama 10–15 hari.
Biarkan pompa aerator bekerja terus-menerus selama masa fermentasi. Fermentasi aerobik dipilih karena terbukti lebih cepat menghilangkan bau busuk dan menghasilkan retensi hara nitrogen yang lebih stabil dibandingkan fermentasi anaerobik. -
Cek tanda kematangan pupuk.
Pupuk cair dinyatakan matang dan siap pakai apabila:- Terbentuk buih putih tipis di permukaan larutan
- Bau busuk amonia telah sepenuhnya hilang, berganti aroma segar khas tape atau fermentasi
- pH larutan stabil di kisaran 7,0 – 8,0 (bisa dicek dengan kertas lakmus atau pH meter sederhana)
Selamat! Kamu baru saja membuat pupuk organik cair premium yang setara dengan produk komersial seharga ratusan ribu rupiah — dari bahan yang biasanya dibuang ke selokan.
Dosis dan Cara Aplikasi: Panduan Lengkap per Jenis Tanaman
Salah satu kesalahan paling umum dalam mengaplikasikan pupuk organik cair adalah soal dosis yang tidak tepat. Terlalu sedikit tidak memberikan efek nyata, terlalu banyak bisa menimbulkan bau tak sedap di sekitar tanaman. Berikut panduan dosis yang disusun berdasarkan hasil penelitian ilmiah:
Metode 1: Penyiraman Langsung (Air Kolam Sehat, Tanpa Fermentasi)
Metode ini cocok jika air kolam lele dalam kondisi sehat, berwarna hijau cerah karena dominasi mikroalga menguntungkan, dan tidak berbau menyengat.
- Dosis: 500 – 800 ml per tanaman dewasa
- Frekuensi: Setiap 3 hari sekali
- Cara: Siramkan langsung ke media tanah di sekeliling perakaran tanaman, hindari mengenai batang atau daun secara langsung
- Waktu terbaik: Pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore hari setelah pukul 16.00, hindari saat terik matahari
Dosis Spesifik Berdasarkan Jenis Tanaman:
- Tanaman sayur daun (sawi, bayam, kangkung, selada): 500–600 ml per tanaman, setiap 3 hari
- Tanaman buah (tomat, cabai, terong): 600–800 ml per tanaman, setiap 3–5 hari. Bisa dikombinasikan dengan 100 ml untuk fase awal vegetatif bersama pupuk NPK
- Bibit atau tanaman muda (< 2 minggu): 250–300 ml per tanaman, cukup 2 kali seminggu
- Bibit kakao fase pre-nursery: 750 ml per tanaman, 2–3 kali seminggu
- Tanaman gambas dan labu: 600 ml per tanaman, 5 kali aplikasi selama fase vegetatif
Metode 2: Penyiraman Menggunakan Pupuk Organik Cair Fermentasi (Diencerkan)
Metode ini menggunakan pupuk cair fermentasi yang sudah matang dari proses di atas. Larutan hasil fermentasi harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
- Rasio pengenceran: 1:10 (1 bagian pupuk cair + 10 bagian air bersih) untuk aplikasi normal, atau 1:5 untuk tanaman yang membutuhkan nutrisi lebih intensif
- Dosis per tanaman: 250 ml larutan hasil pengenceran
- Frekuensi: 1 kali per minggu
- Waktu terbaik: Pagi hari sebelum pukul 09.00 untuk mengoptimalkan penyerapan hara oleh stomata dan akar tanaman
- Cara penyimpanan sisa pupuk: Simpan dalam wadah tertutup di tempat teduh, hindari paparan sinar matahari langsung. Tahan hingga 3–4 bulan.
Tanda Tanaman Merespon Positif
Dalam waktu 5–10 hari setelah penyiraman rutin, kamu akan mulai melihat:
- Warna daun berubah lebih hijau tua dan mengkilap (tanda klorofil meningkat)
- Ukuran daun baru yang tumbuh lebih lebar dari sebelumnya
- Pertumbuhan tinggi tanaman yang lebih cepat dibanding sebelum aplikasi
- Tekstur batang yang lebih kokoh dan tegak
Kesimpulan: Mulai Hari Ini, Jadikan Air Kolam Lele Sebagai Aset, Bukan Limbah
Fakta ilmiah sudah berbicara dengan jelas. Air kolam lele bukan sekadar air buangan — ia adalah pupuk organik cair yang kaya nitrogen bioavailable, fosfor, kalium, dan unsur mikro esensial. Melalui proses nitrifikasi alami yang dijalankan oleh bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter, amonia berbahaya dalam kolam lele diubah menjadi nitrat yang langsung bisa diserap oleh tanaman.
Penelitian dari berbagai universitas di Indonesia — PGRI Adi Buana, UPN Veteran Jawa Timur, dan Universitas Islam Riau — semuanya menunjukkan peningkatan performa vegetatif dan generatif yang signifikan pada tanaman sawi, bayam, tomat, kakao, dan gambas setelah mendapatkan perlakuan air kolam lele dengan dosis yang tepat.
Yang perlu diingat adalah dua hal kunci: gunakan air dari lapisan tengah kolam yang sudah sehat (bukan dari dasar yang anaerobik), dan jika memungkinkan, proses dulu melalui fermentasi aerobik selama 10–15 hari untuk menghilangkan bau dan menstabilkan hara.
Jika kamu tertarik dengan pendekatan zero waste di kebun rumah, filosofi yang sama juga bisa diterapkan pada bahan organik lain dari dapur. Baca artikel kami tentang pupuk organik dari kulit pisang dan manfaat air cucian sayur untuk tanaman untuk melengkapi sistem pupuk organik alami di kebunmu.
Mulai dari kolam lele, berujung pada panen yang melimpah. Tidak ada yang perlu dibuang — hanya perlu dimanfaatkan dengan cara yang tepat.
📺 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!
Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!
▶ Subscribe Sekarang – Gratis!- Noer, M. N. K., dkk. (2025). Pengaruh Pemberian Air Limbah Budidaya Ikan Lele terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.). Plumula: Berkala Ilmiah Agroteknologi. → plumula.upnjatim.ac.id
- Begu, Metodius V. (2020). Fermentasi Air Kolam Ikan Lele dan Limbah Sayur Sebagai Pupuk Tanaman Sawi. Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. → repository.unipasby.ac.id
- Gustiar, F., dkk. (2022). Potential Utilization of Catfish Wastewater, Livestock Manure and Waste of Fish as Media and Nutrition for Organic Hydroponic. AGRITROPICA: Journal of Agricultural Sciences. → researchgate.net
- Abdila, Ezy Fatmi (2022). Pengaruh Air Kolam Ikan Lele dan Pupuk Daun terhadap Pembibitan Pre Nursery Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.). Universitas Islam Riau. → repository.uir.ac.id
- JATT (2024). Pengaruh Pemberian Air Kolam Kotoran Ikan Lele Terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L.). Jurnal Agroteknologi Tropika Vol. 13. → ejurnal.ung.ac.id
- Interactive Effects of Catfish Aquaculture Effluent and NPK Fertilizer on Tomato Growth and Yield under Tropical Field Conditions (2025). ResearchGate. → researchgate.net
- The Effect of Catfish (Clarias sp.) Wastewater LOF Concentration and Nitrogen Fertilizer Dosage on The Production of Ridge Gourd. Journal UIR. → journal.uir.ac.id
- Utilization of Catfish Pond Wastewater for Liquid Organic Fertilizer Production in Mangir Village, Banyuwangi Regency. ResearchGate. → researchgate.net
- Pupuk Organik Cair dari Air Limbah Lele Sistem Bioflok Hasil Fermentasi Aerob dan Anaerob. ResearchGate. → researchgate.net
- Nitrification and Maintenance in Media Bed Aquaponics. Oklahoma State University Extension. → extension.okstate.edu
- Manfaat Air Kolam Lele untuk Tanaman dan Cara Menggunakannya. Kompas Agri. → agri.kompas.com
- Peduli Lingkungan Melalui Pemanfaatan Air Limbah Budidaya Ikan Lele Sebagai Pupuk Organik Cair. DRPM UMSIDA. → drpm.umsida.ac.id
- Cara Nitrifikasi Maksimal Kolam Ikan Bagi Peternak & Hobbyist. Platinum Adi Sentosa. → platinumadisentosa.com
- Panduan Lengkap Probiotik untuk Mengurangi Amoniak di Kolam Ikan. Centra Biotech Indonesia. → centrabiotechindonesia.com
- Effects of organic fertilizers produced from fish pond sediment on growth performances and yield of vegetables. Frontiers in Sustainable Food Systems. → frontiersin.org
- Air Kolam Ikan Bagus untuk Pertumbuhan Tanaman? Ini Penjelasannya. Kompas Homey. → kompas.com






