Misteri Paku Karatan Kuno: Membedah Sains Kelasi Besi Alami dan Fermentasi Air Cucian Beras sebagai Solusi Klorosis Tanaman

daun tanaman klorosis kuning interveinal berubah hijau setelah aplikasi pupuk kelat besi organik dari paku berkarat dan fermentasi air cucian beras
perbandingan daun klorosis kuning vs daun hijau sehat setelah aplikasi kelat besi organik dari paku berkarat dan air cucian beras fermentasi.

Pernahkah Anda menemukan daun tanaman kesayangan menguning pucat, sementara tulang-tulang daunnya tetap berwarna hijau pekat? Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika. Ini adalah sinyal darurat dari sistem metabolisme tanaman yang sedang berjuang mendapatkan unsur yang paling krusial: zat besi. Dan sudah sejak berabad-abad lalu, para petani kuno memiliki sebuah rahasia sederhana untuk mengatasinya — sebuah paku berkarat tua yang terendam dalam air.

Misteri Paku Karatan Kuno: Membedah Sains Kelasi Besi Alami dan Fermentasi Air Cucian Beras sebagai Solusi Klorosis Tanaman

1. Apa Itu Klorosis Besi dan Mengapa Terjadi?

Klorosis besi adalah gangguan fisiologis yang sangat khas: daun-daun muda menguning dari sela-sela tulang daun, sementara tulang daun sendiri tetap berwarna hijau gelap. Fenomena ini dikenal dalam botani sebagai klorosis interveinal — dan ini bukan sekadar soal warna. Ini adalah tanda bahwa tanaman Anda gagal mensintesis klorofil, pigmen hijau yang menjadi "panel surya" kehidupan.

Zat besi (Fe) bertindak sebagai kofaktor penting bagi sejumlah enzim yang terlibat dalam pembentukan klorofil. Ia juga berperan dalam rantai transfer elektron di mitokondria dan kloroplas — dua "pabrik energi" utama di dalam sel tanaman. Ketika pasokan besi terganggu, produksi klorofil terhenti, pembelahan sel kloroplas melambat, dan dalam hitungan hari Anda akan melihat daun-daun muda berubah dari hijau segar menjadi kuning pucat yang lesu.

Jika tidak segera diatasi, klorosis besi akan berlanjut menjadi nekrosis — kematian jaringan daun. Kemudian kerontokan daun, penurunan kualitas buah, pertumbuhan kerdil, dan dalam kasus ekstrem: kematian tanaman secara sistemik.

💡 Penting untuk Dipahami Klorosis besi berbeda dari daun menguning akibat kekurangan nitrogen. Pada defisiensi nitrogen, daun-daun tua yang kuning lebih dahulu. Pada klorosis besi, giliran daun-daun muda yang paling baru tumbuh yang berubah kuning, sementara daun lama masih bertahan hijau.

2. Peran pH Tanah: Mengapa Besi yang Melimpah Tetap Tidak Bisa Diserap?

Inilah paradoks yang paling membingungkan banyak pekebun: zat besi adalah salah satu unsur paling melimpah di kerak bumi. Bahkan di hampir semua tanah kebun, besi tersedia dalam jumlah yang secara teoritis lebih dari cukup. Lalu mengapa tanaman tetap kekurangan?

Jawabannya tersembunyi dalam satu angka kecil yang sering diabaikan: pH tanah. Pada kondisi tanah alkalis atau kapuran dengan pH di atas 7,0, ion besi terlarut mengalami reaksi kimia yang sangat cepat: ia bergabung dengan ion hidroksida atau karbonat, membentuk senyawa padat yang sama sekali tidak larut seperti ferihidrit atau goethit. Besi berubah menjadi "batu" kimiawi yang tidak bisa masuk ke dalam sel akar tanaman betapapun melimpahnya ia di tanah.

pH Tanah Status Ketersediaan Fe Mekanisme Kimia Utama Dampak pada Tanaman
< 5,5 (Asam) Sangat Tinggi — potensi toksik Ion Fe²⁺ bebas melimpah akibat protonasi tinggi Absorpsi optimal; risiko toksisitas pada spesies non-toleran
5,5–7,0 (Ideal) Optimum Keseimbangan antara kelarutan kimiawi dan kestabilan mikronutrien Fotosintesis efisien, sintesis klorofil maksimal
7,0–8,0 (Netral-Alkali) Rendah Ion besi mulai mengendap menjadi besi hidroksida tak larut Inisiasi klorosis interveinal pada daun muda
> 8,0 (Sangat Alkali) Sangat Rendah — hampir nol Imobilisasi total besi akibat reaksi dengan kalsium karbonat Klorosis parah, nekrosis daun, pertumbuhan kerdil, kematian jaringan

Kondisi tanah yang padat, dingin, atau jenuh air memperburuk situasi dengan cara berbeda: ia membatasi difusi oksigen ke zona akar, mengganggu respirasi sel akar, dan menghambat kemampuan akar untuk secara aktif mereduksi besi feri (Fe³⁺) menjadi besi fero (Fe²⁺) — satu-satunya bentuk yang bisa diserap tanaman. Ini yang disebut para ilmuwan sebagai lime-induced chlorosis atau klorosis terinduksi kapur.

3. Membedah Mitos: Mengapa Paku Berkarat Saja Tidak Cukup?

Praktik membenamkan paku berkarat ke dalam tanah atau menancapkannya ke batang pohon adalah salah satu tradisi berkebun yang paling tersebar luas di seluruh dunia — termasuk di Indonesia. Logikanya tampak masuk akal: paku berkarat mengandung besi, tanaman butuh besi, maka tancapkan paku dan masalah selesai.

Sayangnya, kimia tidak seindah logika awam tersebut.

Karat yang Anda lihat pada paku itu — lapisan cokelat-oranye yang mengotori tangan Anda — adalah hasil reaksi elektrokimia spontan antara besi (Fe), oksigen (O₂), dan molekul air (H₂O). Produk utamanya adalah besi oksida terhidrasi, yang dalam istilah kimia dikenal sebagai goethit atau ferihidrit. Senyawa inilah yang disebut "karat".

Mengapa Karat Tidak Bisa Langsung Diserap Tanaman?

Masalahnya terletak pada stabilitas kimiawi senyawa besi oksida ini. Ia bersifat sangat stabil secara termodinamika dan memiliki konstanta hasil kali kelarutan (Ksp) yang sangat rendah — artinya senyawa ini hampir tidak mau melepaskan ion besi bebas ke dalam air atau larutan tanah.

Sebagai gambaran konkret: nilai Ksp untuk besi oksida amorf adalah sekitar 10⁻³⁹. Angka ini praktis mendekati nol. Dalam kondisi pH normal tanah dan air, pelepasan ion Fe²⁺ atau Fe³⁺ dari paku berkarat terjadi dalam jumlah yang sangat tidak signifikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman sehari-hari.

⚠️ Kesimpulan Sains yang Tegas Membenamkan paku berkarat biasa ke dalam tanah atau pot tanaman, tanpa perlakuan kimiawi apapun, tidak akan memberikan manfaat nyata bagi tanaman yang kekurangan besi. Ini bukan persoalan jumlah paku — ini persoalan kimia fundamental. Besi oksida tidak larut air.

4. Bahaya Menancapkan Paku ke Batang Pohon dan Risiko Tetanus

Praktik menancapkan paku secara fisik ke batang pohon — sebagaimana sering disarankan di berbagai media sosial — bukan hanya tidak efektif. Ini berpotensi membunuh tanaman Anda dan membahayakan diri Anda sendiri.

Kerusakan pada Tanaman

Jaringan batang pohon berkayu terdiri dari pembuluh tapis (floem) yang mengangkut gula hasil fotosintesis ke seluruh tubuh tanaman, dan pembuluh kayu (xilem) yang mengangkut air dan mineral dari akar ke daun. Ketika Anda menancapkan paku ke batang, Anda memotong jalur vital ini secara mekanis. Ini seperti memotong arteri sambil berharap pasien tetap sehat.

Selain itu, luka terbuka yang tercipta menjadi pintu masuk bagi patogen jamur seperti Phytophthora dan bakteri pembusuk yang bekerja secara sistemik dari dalam. Di dalam tanah, paku yang tidak terdegradasi merusak perakaran halus dan mengganggu zona penyerapan aktif.

Risiko Tetanus untuk Manusia

🚨 Peringatan Kesehatan Serius Spora bakteri Clostridium tetani — penyebab tetanus — bersifat endogenus di dalam tanah organik dan debu. Paku berkarat bertindak sebagai media penetrasi fisik yang mentransmisikan spora ini ke dalam jaringan kulit melalui luka tusuk. Lingkungan luka tusuk yang tertutup dan minim oksigen sangat ideal bagi perkecambahan spora anaerob untuk memproduksi neurotoksin (tetanospasmin) yang memicu kekakuan otot, kejang sistemik, hingga kelumpuhan pernapasan. Selalu gunakan sarung tangan karet tebal saat menangani paku tua, dan pastikan vaksinasi tetanus Anda masih aktif.

5. Sains Kelasi Alami: Mengapa Air Cucian Beras Mengubah Segalanya?

Di sinilah sains berkebun menjadi benar-benar menakjubkan. Masalah utama paku berkarat adalah besi oksida tidak larut air. Solusinya adalah mengubah besi oksida yang tidak larut itu menjadi senyawa yang bisa larut — melalui proses yang disebut kelasi (chelation).

Apa Itu Kelasi?

Kelasi adalah proses pengikatan ion logam oleh molekul organik (disebut ligan) yang membentuk struktur cincin pelindung di sekitar ion logam. Bayangkan ion besi seperti orang yang akan tenggelam — ligan organik adalah pelampung yang menyelamatkannya dari "tenggelam" ke dalam endapan tanah. Struktur kelat ini melindungi ion besi dari reaksi presipitasi dengan anion tanah, sekaligus membuat besi tetap larut dan bisa diangkut menembus membran sel akar atau kutikula daun.

Di alam, akar tanaman sudah menggunakan mekanisme ini secara mandiri: mereka melepaskan senyawa khusus yang disebut fitosiderofor (misalnya asam mugineat) untuk "memburu" besi di sekitar zona akar. Kita bisa mereplikasi mekanisme ini secara artifisial — dan air cucian beras adalah bahan bakunya yang sempurna.

Transformasi Air Cucian Beras Melalui Fermentasi

Air cucian beras segar mengandung pati (amilosa dan amilopektin), protein kasar, asam amino bebas, serta vitamin B kompleks. Kandungan ini terlihat sederhana. Namun ketika air cucian beras diinkubasi bersama paku berkarat selama beberapa hari, sesuatu yang luar biasa terjadi di tingkat mikroba.

Populasi bakteri asam laktat (Lactic Acid Bacteria/LAB) seperti Lactobacillus spp. dan ragi (Saccharomyces spp.) yang secara alami hidup di permukaan beras mulai memecah karbohidrat menjadi asam-asam organik rantai pendek melalui jalur fermentasi. Proses ini menghasilkan berbagai Low Molecular Weight Organic Acids (LMWOAs): asam laktat, asam asetat, asam sitrat, asam malat, dan asam oksalat.

Kehadiran asam-asam organik ini memicu dua mekanisme kimia yang bekerja bersama-sama:

Mekanisme 1: Penurunan pH yang Melarutkan Karat

Akumulasi asam laktat dan asam asetat menurunkan pH larutan secara drastis hingga mencapai kisaran 3,5–4,0 dalam waktu 5–7 hari fermentasi. Pada pH serendah ini, kelarutan termodinamika besi oksida dari paku berkarat meningkat secara eksponensial. Ion besi feri (Fe³⁺) mulai dilepaskan ke fase cair melalui reaksi protonasi permukaan yang mendissolver lapisan karat.

Mekanisme 2: Pembentukan Kompleks Organometalik (Kelasi)

Asam sitrat, asam malat, dan asam oksalat — yang bersifat multi-karboksilat — bertindak sebagai ligan alami. Gugus karboksil (-COOH) dan hidroksil (-OH) pada molekul-molekul ini mendonasikan pasangan elektron kepada orbital d kosong milik ion besi, membentuk senyawa kompleks organo-besi yang larut air dan stabil terhadap degradasi. Inilah yang disebut kelat besi organik alami — bentuk besi yang bisa langsung diserap transporter membran akar atau masuk melalui stomata daun.

6. Cara Membuat Pupuk Besi Kelat Organik dari Paku Berkarat + Air Leri

Setelah memahami sains di baliknya, mari kita masuk ke praktik pembuatan. Formula ini hampir tidak berbiaya dan memanfaatkan dua bahan yang sering kita buang begitu saja dari dapur.

Bahan dan Alat yang Diperlukan

  • 5–10 buah paku besi berkarat tua (bukan stainless steel, harus besi biasa yang sudah teroksidasi)
  • 500 ml air cucian beras pertama (air leri paling keruh mengandung paling banyak pati)
  • 1 buah botol kaca atau wadah plastik food-grade berukuran 600–750 ml
  • Kain kasa atau kertas tisu tebal untuk penutup
  • Karet gelang
  • Sarung tangan karet (wajib dipakai!)

Langkah-Langkah Pembuatan

  1. Cuci paku hingga bersih dari kotoran kasar menggunakan air, lalu keringkan sebentar. Jangan gosok lapisan karatnya — lapisan karat inilah bahan bakunya. Gunakan sarung tangan karet sepanjang proses ini.
  2. Masukkan paku ke dalam wadah kaca atau botol plastik. Pastikan wadah bersih dan bebas dari sabun atau bahan kimia lain yang bisa mengganggu fermentasi.
  3. Tuangkan air cucian beras pertama ke dalam wadah hingga seluruh paku terendam. Air leri pertama adalah yang paling keruh dan kaya nutrisi — inilah yang paling efektif untuk proses fermentasi.
  4. Tutup wadah dengan kain kasa atau tisu tebal, lalu ikat dengan karet gelang. Jangan gunakan tutup rapat — proses fermentasi menghasilkan gas CO₂ yang harus bisa keluar. Tutup rapat bisa menyebabkan tekanan berlebih.
  5. Simpan di tempat yang teduh, bersuhu ruang (25–30°C), dan tidak terkena sinar matahari langsung selama 5–7 hari. Itulah durasi optimal untuk fermentasi aerobik terkendali. Anda akan mulai melihat perubahan warna air dan muncul aroma asam khas fermentasi (bukan amonia — itu tanda fermentasi sehat).
  6. Amati setiap hari. Pada hari ke-3 biasanya mulai tercium aroma asam laktat yang khas. Pada hari ke-5 hingga ke-7, warna air berubah menjadi kecokelatan-oranye dan lapisan karat pada paku terlihat berkurang. Ini tanda bahwa kelasi berhasil terjadi.
  7. Saring larutan menggunakan kain kasa ke wadah terpisah. Cairan yang tersaring adalah pupuk besi kelat organik siap pakai Anda. Simpan sisa paku untuk batch berikutnya — tambahkan air leri segar dan proses ulang.
✅ Tanda Fermentasi Berhasil Larutan berwarna cokelat-keemasan dengan aroma asam laktat yang segar (mirip yogurt). pH larutan sekitar 3,5–4,5 jika diukur dengan kertas lakmus. Lapisan karat pada paku berkurang secara visual. Larutan bebas dari bau busuk seperti amonia atau telur busuk — jika muncul bau seperti itu, fermentasi sudah basi dan harus dibuang.

7. Dosis dan Cara Mengaplikasikan dengan Aman

Konsentrasi kelat besi organik dalam larutan yang Anda buat bersifat cukup pekat dan asam. Mengaplikasikannya langsung tanpa pengenceran adalah kesalahan yang bisa membakar akar atau daun tanaman. Kunci utamanya adalah encerkan selalu sebelum aplikasi.

Kocor Tanah
1 : 10
1 bagian larutan kelat + 10 bagian air bersih. Siramkan merata di sekitar perakaran, bukan tepat di pangkal batang.
Semprot Daun (Foliar)
1 : 20
1 bagian larutan kelat + 20 bagian air bersih. Semprot bagian bawah daun saat pagi hari atau sore (hindari tengah hari).
Tanaman Pot/Polybag
50–100 ml
Larutan encer (1:10) per pot ukuran sedang (diameter 25–30 cm). Kocorkan setiap 7–10 hari sekali.
Tanaman Kebun Langsung
200–300 ml
Larutan encer (1:10) per tanaman besar (cabai, tomat, jeruk). Kocor di alur parit kecil sekitar tajuk setiap 7–10 hari.

Kapan Melihat Hasilnya?

Penyerapan besi melalui aplikasi foliar (semprot daun) bekerja paling cepat karena kelat organik bisa langsung masuk melalui stomata. Pada daun yang sudah menunjukkan gejala klorosis ringan hingga sedang, perubahan warna dari kuning kembali ke hijau biasanya mulai terlihat dalam 5–10 hari setelah 2–3 kali aplikasi. Daun yang sudah benar-benar kering dan mati tidak akan pulih — namun pertumbuhan daun baru akan keluar berwarna hijau normal.

Untuk klorosis yang parah (pH tanah di atas 8,0 atau tanah kapur berat), kombinasikan aplikasi ini dengan penurunan pH tanah menggunakan sulfur belerang atau kompos organik matang untuk hasil yang lebih tahan lama.

8. Perbandingan: Kelat Organik Mandiri vs. Kelat Sintetis Komersial

Para agronomis dan akademisi sering merekomendasikan kelat besi sintetis komersial seperti Fe-EDDHA atau Fe-EDTA untuk penggunaan skala besar. Keduanya memiliki tempat yang tepat, dan memahami perbedaannya membantu Anda memilih solusi yang sesuai kondisi kebun Anda.

Parameter Kelat Sintetis (Fe-EDDHA / Fe-EDTA) Kelat Organik Mandiri (Paku + Air Leri Fermentasi)
Konstanta Stabilitas (Kf) Sangat tinggi; ikatan tidak mudah terputus oleh ion kompetitor Ca²⁺ atau Mg²⁺ Sedang; ikatan lebih labil, mudah dipengaruhi populasi mikroba tanah
Ketahanan pH Tanah Sangat luas; Fe-EDDHA stabil bahkan hingga pH 9,0 Terbatas; optimal pada tanah agak asam hingga netral (pH 5,0–7,0)
Kandungan Nutrisi Tambahan Nihil; hanya menyediakan besi terisolasi Kaya nutrisi: N, P, K, asam amino, vitamin B, fitohormon, mikroba fungsional
Biaya Produksi Tinggi; investasi kimia pabrikan signifikan Hampir nol; memanfaatkan limbah domestik dan barang bekas
Dampak pada Mikrobioma Tanah Potensi akumulasi; residu ligan sintetis sulit terurai, berisiko memobilisasi logam berat Ramah lingkungan; meningkatkan populasi mikroba menguntungkan dan memperbaiki agregasi tanah
Ideal untuk kondisi Tanah alkalis ekstrem (pH > 8), pertanian komersial skala besar Kebun rumah, urban farming organik, tanah asam hingga netral, anggaran terbatas

Kelat organik mandiri menawarkan satu keunggulan yang tidak dimiliki produk komersial: nutrisi karbohidrat dan pati dari air leri bertindak sebagai substrat karbon yang memicu aktivitas dan multiplikasi mikroba menguntungkan di zona rhizosfer. Ini menginduksi pembentukan mikoriza dan menstimulasi sekresi asam organik endogen oleh tanaman itu sendiri — menciptakan siklus kesuburan jangka panjang yang tidak bisa dibeli di toko pertanian manapun.

9. Manajemen Risiko: Overfermentasi, Hama, dan Patogen Tanah

Tidak ada solusi organik yang sepenuhnya bebas risiko jika dilakukan sembarangan. Berikut adalah hal-hal yang harus Anda waspadai dan cara mengatasinya.

Risiko 1: Overfermentasi (Fermentasi Kelewat Batas)

Fermentasi yang berlangsung lebih dari 14 hari tanpa pengawasan dapat memicu pergeseran populasi mikroba dari bakteri asam laktat yang menguntungkan menjadi bakteri pembusuk. Tanda-tandanya sangat jelas: aroma berubah dari asam segar menjadi bau belerang atau amonia yang menyengat, warna cairan berubah menjadi hitam pekat. Larutan yang sudah seperti ini tidak boleh digunakan — buang dan mulai ulang.

⏱️ Patokan Waktu yang Aman Fermentasi optimal: 5–7 hari (musim panas, suhu >28°C) atau 7–10 hari (musim dingin, suhu <25°C). Jangan dilewatkan melewati 14 hari dalam kondisi apapun.

Risiko 2: Kerak Tanah dan Pertumbuhan Jamur Patogen

Sisa pati terlarut yang tidak diencerkan dengan benar dalam aplikasi langsung dapat membentuk kerak keras di permukaan tanah, menyumbat pori-pori, dan memicu pertumbuhan jamur patogen seperti Pythium atau Fusarium pada kondisi lembap. Inilah mengapa pengenceran 1:10 adalah aturan wajib yang tidak boleh dilanggar.

Risiko 3: Daya Tarik Hama

Aroma manis dari pati yang terfermentasi bisa menarik semut, lalat gnat (Sciaridae), dan hewan lain. Untuk meminimalkan risiko ini, pastikan aplikasi dilakukan di area perakaran (bukan permukaan terbuka), dan setelah aplikasi kocor tanah diratakan kembali agar tidak membentuk genangan larutan di permukaan.

Ringkasan Praktik Terbaik

  • Selalu gunakan sarung tangan saat menangani paku tua.
  • Hentikan fermentasi pada hari ke-7 maksimal, kecuali suhu sangat rendah.
  • Encerkan selalu — rasio 1:10 untuk kocor, 1:20 untuk semprot daun.
  • Jangan aplikasikan di atas siang hari terik untuk mencegah luka semprot.
  • Pantau tanaman selama 3–5 hari setelah aplikasi pertama untuk melihat respons.

10. Kesimpulan dan Langkah Selanjutnya

Klorosis besi adalah masalah nyata yang dialami jutaan tanaman di seluruh dunia. Akar permasalahannya bukan kurangnya besi di tanah, melainkan ketidakmampuan besi oksida yang stabil untuk mencapai sel-sel tanaman dalam bentuk yang bisa diserap.

Paku berkarat sendirian tidak bisa menyelesaikan ini. Namun ketika direndam dalam air cucian beras yang difermentasi, sebuah proses kimia dan biologis yang menakjubkan terjadi: bakteri asam laktat menghasilkan asam-asam organik yang melarutkan karat sekaligus membentuk kelat besi organik alami. Produk akhirnya adalah pupuk besi siap serap yang bisa mempercepat pemulihan klorofil dan menghijaukan kembali daun yang menguning hanya dalam hitungan hari.

Yang membuat metode ini benar-benar berharga bukan hanya efektivitasnya — tetapi fakta bahwa ia memanfaatkan limbah dapur yang setiap hari kita buang, tidak memerlukan biaya hampir sama sekali, dan sejalan dengan prinsip pertanian organik yang menghormati keseimbangan ekosistem tanah.

Coba praktikkan, amati hasilnya, dan bagikan pengalaman Anda di kolom komentar di bawah. Itulah cara pengetahuan berkebun organik berkembang — dari satu dapur ke dapur yang lain, dari satu kebun ke kebun berikutnya.

🌿 Jangan Sampai Ketinggalan Video Terbaru!

Dukung Pertanian dan Berkebun Organik dengan Subscribe Channel Putune Pak Tani.

▶ Subscribe YouTube Putune Pak Tani

📚 Sumber Referensi Ilmiah

  1. Utah State University Extension — What is Iron Chlorosis and What Causes it?
  2. New Mexico State University Extension — Control of Iron Chlorosis in Ornamental and Crop Plants
  3. Birds and Blooms — Should You Add Rusty Nails to Your Garden Soil?
  4. Laidback Gardener — The Rusty Nail Myth
  5. University of Florida IFAS Extension — Understanding and Applying Chelated Fertilizers Effectively Based on Soil pH
  6. Gardening Know How — Is Rice Water the Secret to Stronger Plants?
  7. PlantIn — Full Guide on Rice Water for Plants
  8. PMC (National Institutes of Health) — Combined benefits of fermented washed rice water and NPK mineral fertilizer on plant growth
  9. PMC — Low molecular weight organic acids stabilise siderite against oxidation
  10. MDPI Cosmetics Journal — Biologically Active Components and Skincare Benefits of Rice Fermentation Products
  11. Centra Biotech Indonesia — Panduan Lengkap Pupuk Organik Cair Air Cucian Beras
  12. Risk Assessment Information System — Ecological Soil Screening Level for Iron
  13. UC ANR Repository — Trunk injection corrects iron deficiency in plum trees
  14. Utah State University Extension — Preventing and Treating Iron Chlorosis in Trees and Shrubs
  15. Hello Sehat — Ciri-Ciri Penyakit Tetanus setelah Tertusuk Paku
  16. PMC — Development of Fermented Rice Water to Improve the Quality of Garaetteok
  17. Physicochemical Problems of Mineral Processing — A study on the dissolution kinetics of iron oxide leaching by oxalic acid
  18. Yayasan Dharma Bhakti Astra — Kok Bisa Paku Berkarat Menjadi Pupuk Tanaman
  19. Semnas Biologi FMIPA UNP — Pemanfaatan Limbah Air Cucian Beras dan Cangkang Telur sebagai Pupuk Organik Cair
  20. Desa Plosowangi — Mahasiswa KKN Undip Manfaatkan Air Cucian Beras sebagai Pupuk Organik Cair
Share:

Postingan Populer

Recent Posts