Akarisida Alami Biji Ketumbar: Cara Ampuh Basmi Tungau Merah Tanpa Kimia

Cara membuat akarisida alami dari biji ketumbar untuk membasmi tungau merah pada tanaman cabai dan tomat
Biji ketumbar dapur ternyata bisa jadi senjata ampuh melawan tungau merah di kebun organik Anda!

Pernahkah anda melihat pohon cabai daunnya pucat, penuh bercak kuning, dan ada jaring-jaring halus menutupi bagian bawah daun? Bukan kutu daun. Bukan jamur. Musuhnya kali ini jauh lebih kecil dan jauh lebih sulit terlihat dengan mata telanjang: tungau merah. Sudah mencoba berbagai pestisida kimia, tapi hama ini terus datang—bahkan seperti semakin kebal. Padahal, solusinya ternyata ada di dapur anda sendiri: segenggam biji ketumbar.

Akarisida Alami Biji Ketumbar: Cara Ampuh Basmi Tungau Merah Tanpa Kimia

1. Mengenal Tungau Merah: Si Musuh Kecil yang Berbahaya

Gejala serangan tungau merah pada daun cabai: bercak klorosis kuning dan keperakan akibat isapan tungau
aun cabai yang terserang tungau merah menunjukkan bercak klorosis (menguning) di permukaan atas, sementara jaring sutra halus tampak di bawah daun.

Tungau merah (Tetranychus urticae Koch) bukan serangga biasa. Ukurannya hanya 0,3–0,5 milimeter—hampir tidak terlihat mata telanjang. Tapi jangan remehkan ukurannya. Hama ini tercatat menyerang lebih dari 1.100 spesies tanaman inang dari lebih dari 140 famili tanaman komersial, mulai dari cabai, tomat, mentimun, stroberi, hingga kacang-kacangan.

Di kebun rumah, tungau merah adalah salah satu hama yang paling sulit dikendalikan. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia cepat berkembang dan cepat kebal terhadap pestisida kimia.

Ciri-ciri Tanaman yang Terserang Tungau Merah

Sebelum membasmi, kamu harus bisa mengenali tanda-tanda serangannya. Ini yang perlu diperhatikan:

  • Bercak klorosis kekuningan atau keperakan di permukaan atas daun akibat sel daun yang diisap isinya
  • Jaring sutra halus (webbing) berwarna putih keperakan di bagian bawah daun—ini adalah "rumah" dan pelindung koloni tungau
  • Daun menggulung ke bawah dan akhirnya rontok lebih cepat dari seharusnya
  • Tanaman kerdil dan penurunan produksi buah yang signifikan karena laju fotosintesis terganggu
  • Pada serangan berat, seluruh tanaman bisa tampak seperti diselimuti debu keperakan

Untuk memastikan ada tungau atau tidak, gunakan kaca pembesar 10x dan periksa bagian bawah daun. Jika tampak titik-titik bergerak sangat kecil berwarna kemerahan atau kecokelatan, berarti serangan sudah dimulai.

Siklus Hidup Singkat yang Bikin Petani Kewalahan

Inilah yang membuat tungau merah sangat berbahaya: siklus hidupnya sangat singkat. Dari telur hingga menjadi dewasa yang siap bertelur lagi, prosesnya hanya membutuhkan 7–14 hari pada suhu optimal 28–30°C.

Satu betina bisa menghasilkan 100–200 butir telur sepanjang hidupnya. Yang lebih mengkhawatirkan, betina tungau merah bisa bereproduksi tanpa kawin (partenogenesis). Artinya, hanya dari satu individu betina saja, populasinya bisa meledak dalam hitungan minggu.

Inilah mengapa tungau merah menempati peringkat pertama sebagai hama pertanian yang paling cepat mengembangkan resistensi terhadap berbagai akarisida kimia sintetis. Penggunaan pestisida kimia terus-menerus terbukti justru mengeliminasi musuh alaminya, memicu ledakan populasi tungau yang semakin kebal, dan meracuni lingkungan sekitar.

Kalau kamu juga menghadapi masalah hama lain selain tungau, baca dulu artikel kami tentang Pestisida Alami Daun Pepaya: Cara Membuat, Dosis, dan Efektivitas Ilmiahnya sebagai referensi tambahan pengendalian hama organik dari bahan dapur.

2. Mengapa Biji Ketumbar Bisa Membasmi Tungau Merah?

Biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) sudah ribuan tahun digunakan sebagai rempah dapur. Tapi di balik aroma khasnya yang sedap, tersimpan senjata kimia alami yang telah diuji secara ilmiah sebagai akarisida botani—yaitu bahan alami pembasmi tungau.

Ketumbar termasuk famili Apiaceae, keluarga yang sama dengan wortel, seledri, dan adas. Biji (tepatnya buah schizocarp) ketumbar mengandung kelenjar minyak atsiri yang kaya akan senyawa monoterpenoid volatil.

3. Kandungan Senyawa Aktif di Balik Aroma Ketumbar

Senyawa paling dominan dalam minyak atsiri biji ketumbar adalah R-linalool—sebuah monoterpenoid alkohol yang juga ditemukan di lavender dan basil. Namun, linalool dalam ketumbar didominasi oleh enansiomer R (atau +), yang berbeda dari lavender yang kaya L-linalool. Perbedaan ini penting karena R-linalool memiliki bioaktivitas yang jauh lebih spesifik dan kuat terhadap sistem saraf kutu dan tungau.

Berikut ini adalah komposisi lengkap senyawa volatil utama yang ditemukan dalam minyak atsiri biji ketumbar berdasarkan penelitian ilmiah:

Nama Senyawa Aktif Kandungan (% b/b) Golongan Kimia Peran dalam Pengendalian Tungau
R-Linalool 60–80% Monoterpenoid Alkohol Neurotoksin kontak utama, penghambat enzim AChE, bahan penolak (repellent)
Kamper (Camphor) 4–8% Monoterpenoid Keton Sinergis toksisitas, meningkatkan daya racun fumigan ekstrak
γ-Terpinene 3–7% Monoterpene Hidrokarbon Antiseptik, meningkatkan penetrasi kutikula lilin tungau
α-Pinene 2–4% Monoterpene Bisiklik Penghambat enzim detoksifikasi tungau, meningkatkan penguapan zat aktif
Geranyl Asetat 2–5% Monoterpene Ester Sinergis penolak hama, meningkatkan durasi adhesi pada daun
p-Cymene 1–3% Monoterpene Aromatik Toksin kontak tambahan, mempercepat penetrasi membran sel tungau

📌 Sumber data: Regnault-Roger et al. (2012) dalam Journal of Plant Protection Research; Burt (2004) dalam International Journal of Food Microbiology. Kandungan dapat bervariasi tergantung asal geografis biji dan metode ekstraksi.

Yang menarik, kombinasi multi-senyawa inilah yang membuat ketumbar jauh lebih efektif dibanding akarisida berbahan tunggal. Tungau harus menghadapi serangan dari berbagai jalur fisiologis secara bersamaan—sehingga risiko resistensi jauh lebih kecil.

4. Cara Kerja Linalool Merusak Sistem Saraf Tungau

Bagaimana tepatnya linalool membunuh tungau? Prosesnya berlangsung dalam beberapa tahap yang sangat spesifik.

Tahap 1: Menembus Kulit Luar Tungau

R-linalool bersifat lipofilik—artinya mudah larut dalam lemak. Sifat inilah yang memungkinkannya menembus lapisan lilin pelindung (kutikula) pada tubuh tungau dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dibanding banyak pestisida kimia polar. Senyawa γ-terpinene dan α-pinene dalam ekstrak ketumbar turut membantu membuka celah di lapisan kutikula ini.

Tahap 2: Memblokir Enzim Saraf Utama

Setelah masuk ke dalam tubuh tungau, linalool menyerang enzim Asetilkolinesterase (AChE)—enzim yang bertugas menghentikan sinyal saraf. Caranya: linalool berikatan langsung dengan kantung katalitik enzim ini melalui ikatan hidrogen pada residu asam amino GLU 237 dan residu TRP 83.

Bayangkan enzim AChE seperti tombol "berhenti" pada sinyal saraf. Begitu linalool memblokir tombol ini, sinyal saraf pada tungau tidak bisa berhenti. Tungau mengalami hiperaktivitas saraf, kejang, kelumpuhan sistem motorik, dan akhirnya kematian akibat dehidrasi ekstrem.

Tahap 3: Merusak Sistem Pencernaan dan Pertahanan Tubuh

Pada paparan subletal (dosis rendah yang tidak langsung membunuh), linalool masih bekerja dengan merusak:

  • Enzim pencernaan protease tungau—mengganggu metabolisme nutrisi sehingga tungau sulit makan
  • Enzim pertahanan diri tungau seperti Glutation S-Transferase (GST), Karboksilesterase (CarE), dan β-esterase—melemahkan kemampuan tungau untuk menetralisir racun

Tahap 4: Efek Fumigan pada Telur Tungau

Yang tidak kalah penting: uap linalool yang volatil juga mampu menembus selubung luar telur (chorion), mengganggu respirasi embrio, dan menggagalkan proses penetasan. Ini berarti sekali semprot, bukan hanya tungau dewasa yang mati, tetapi generasi berikutnya pun terhambat.

5. Cara Membuat Akarisida Biji Ketumbar Sendiri di Rumah

Bahan-bahan membuat akarisida organik dari biji ketumbar: biji ketumbar kering, panci, saringan, sabun castile, dan botol sprayer
Semua bahan pembuatan akarisida ketumbar mudah ditemukan di dapur dan toko terdekat: biji ketumbar utuh, air bersih, sabun castile murni, dan botol semprot bertekanan.

Kabar baiknya: kamu tidak perlu alat laboratorium atau destilasi khusus untuk mendapatkan ekstrak aktif linalool dari biji ketumbar. Metode perebusan air (hydro-distillation sederhana) sudah cukup efektif dan bisa dilakukan siapa saja di dapur rumah.

Bahan yang Dibutuhkan

Untuk membuat sekitar 5 liter larutan siap semprot, kamu membutuhkan:

  • 50 gram biji ketumbar kering utuh berkualitas premium (hindari yang sudah dalam bentuk bubuk kemasan—kandungan minyak atsirinya sudah banyak menguap)
  • 1 liter air bersih untuk perebusan
  • 4 liter air bersih untuk pengenceran
  • 2–3 tetes sabun castile murni (tanpa SLS dan pewangi sintetis) sebagai surfaktan alami
  • ✅ Mortar/ulekan atau blender kering untuk menghancurkan biji
  • ✅ Panci, kain kasa, dan botol sprayer bertekanan

Panduan Teknis Pembuatan Langkah demi Langkah

Proses merebus biji ketumbar yang sudah ditumbuk dalam panci untuk membuat akarisida organik alami
Perebusan biji ketumbar selama 15 menit mengekstrak senyawa linalool dari kelenjar minyak internal biji melalui proses destilasi hidro sederhana.


No. Tahapan Instruksi Teknis Mengapa Langkah Ini Penting
1 Pilih Biji Berkualitas Gunakan 50 gram biji ketumbar kering utuh (bukan bubuk). Pilih yang masih berbau harum kuat. Biji utuh mempertahankan kandungan minyak atsiri di dalam kelenjar internal. Bubuk kemasan sudah banyak kehilangan linalool akibat penguapan selama penyimpanan.
2 Tumbuk Kasar Tumbuk biji menggunakan ulekan/mortar atau blender kering hingga terbelah kasar. Bukan sampai jadi bubuk halus—cukup retak saja. Membuka dinding sel biji agar minyak atsiri mudah larut ke dalam air saat perebusan, tanpa merusak struktur senyawa aktif akibat terlalu halus digiling.
3 Rebus 15 Menit Masukkan biji tumbuk ke dalam 1 liter air bersih. Rebus hingga mendidih, lalu kecilkan api dan pertahankan mendidih pelan selama 15 menit. Tutup panci. Panas mempercepat pelepasan linalool dari kelenjar internal biji melalui destilasi hidro sederhana. Menutup panci mencegah linalool yang volatil menguap percuma ke udara.
4 Diamkan & Saring Matikan api, biarkan tertutup hingga suhu turun ke suhu ruang (±30 menit). Saring menggunakan kain kasa berlapis dua atau saringan nilon halus. Peras ampasnya. Mendinginkan larutan sebelum disaring mencegah linalool menguap saat dibuka. Menyaring ampas mencegah penyumbatan lubang nozzle sprayer saat digunakan.
5 Encerkan 1:4 Tambahkan 4 liter air bersih ke dalam larutan hasil saringan. Perbandingan akhir: 1 liter konsentrat + 4 liter air = 5 liter larutan siap semprot. Menurunkan konsentrasi ke batas aman untuk mencegah fitotoksisitas (kerusakan daun) pada tanaman yang sensitif, terutama bibit muda dan tanaman hias daun tipis.
6 Tambahkan Sabun Castile Teteskan 2–3 tetes sabun castile murni ke dalam larutan siap semprot. Aduk perlahan agar tidak berbusa berlebihan. Sabun castile berfungsi sebagai surfaktan organik: menurunkan tegangan permukaan air, membantu larutan menembus jaring sutra pelindung koloni tungau, dan memperlama daya rekat pada daun.
7 Masukkan ke Sprayer Tuangkan larutan ke botol sprayer bertekanan. Kocok perlahan sebelum digunakan. Gunakan segera atau simpan maksimal 24 jam di tempat sejuk dan gelap. Linalool sangat cepat menguap dan terurai. Larutan yang disimpan lebih dari 24 jam akan kehilangan efektivitasnya secara signifikan. Selalu buat segar setiap kali akan menyemprot.

📌 Sumber: Diadaptasi dari panduan formulasi akarisida botani berbasis Apiaceae, NCAT Sustainable Agriculture; Dergipark Turkish Journal of Entomology (2015).

6. Cara Aplikasi yang Benar di Kebun

Memiliki larutan yang tepat saja tidak cukup. Cara aplikasinya juga sangat menentukan keberhasilan pengendalian.

Fokus Utama: Bagian Bawah Daun

Ini adalah aturan paling penting yang tidak boleh dilupakan: semprotkan larutan ke bagian bawah permukaan daun, bukan atasnya. Koloni tungau merah, telur-telurnya, dan jaring sutra pelindungnya semuanya terkonsentrasi di sisi bawah daun. Menyemprot dari atas saja hanya membuang larutan.

Gunakan sprayer bertekanan dengan setelan nozzle kabut halus (mist). Posisikan nozzle menghadap ke atas, lalu semprotkan dari bawah permukaan daun. Pastikan seluruh permukaan bawah daun basah merata—termasuk pelepah dan ranting kecil yang menjadi jalur migrasi tungau.

Urutan Penyemprotan yang Efisien

  1. Mulai dari bagian bawah tanaman, semprot ke atas secara bertahap
  2. Fokuskan pada daun-daun yang sudah menunjukkan gejala serangan
  3. Semprot juga daun yang terlihat sehat di sekitarnya sebagai tindakan preventif
  4. Jangan lupa bagian batang bawah dan permukaan tanah di sekitar tanaman (tempat tungau bisa bersembunyi)

7. Tips Penting Agar Hasilnya Maksimal

Waktu Penyemprotan yang Tepat

Ini krusial. Jangan pernah menyemprot di siang hari atau saat matahari terik. Minyak atsiri dalam larutan dapat menyerap panas secara berlebihan dan memicu fitotoksisitas—daun tanaman bisa terbakar atau mengalami nekrosis di tepiannya.

Waktu terbaik untuk menyemprot:

  • 🌅 Pagi hari: sebelum pukul 07.00 WIB, saat matahari belum terik dan embun masih ada
  • 🌆 Sore hari: setelah pukul 16.00 WIB, saat suhu udara sudah turun dan sinar matahari tidak langsung

Hindari penyemprotan jika suhu udara di atas 35°C atau ada angin kencang. Angin kencang mempercepat penguapan linalool sebelum sempat kontak dengan tubuh tungau.

Dosis dan Frekuensi Aplikasi

Kelemahan utama linalool adalah persistensinya yang sangat rendah. Begitu kena sinar matahari, senyawa ini terurai dengan waktu paruh kurang dari 60 menit. Artinya, tidak ada efek residu jangka panjang seperti pestisida kimia.

Kompensasinya adalah frekuensi semprot yang lebih tinggi:

  • Saat serangan aktif: semprot setiap 3–4 hari sekali
  • Saat populasi tungau sudah berkurang (masa pemantapan): semprot setiap 5–7 hari sekali
  • Sebagai tindakan preventif (belum ada serangan): semprot setiap 7–10 hari sekali

Konsistensi sangat penting. Jika melewatkan jadwal semprot, generasi tungau baru yang menetas dari telur bisa langsung berkembang pesat kembali.

Hindari Risiko Fitotoksisitas

Untuk tanaman dengan daun tipis dan muda (seperti bibit cabai umur di bawah 3 minggu atau tanaman hias daun tipis), pertimbangkan untuk mengencerkan lebih lagi: gunakan rasio 1:6 atau 1:8 terlebih dahulu, lalu perhatikan reaksi daun selama 24 jam pertama. Kalau aman, bisa naikkan ke rasio standar 1:4.

Selalu lakukan uji coba di satu atau dua daun dulu sebelum menyemprot seluruh tanaman, terutama untuk varietas atau jenis tanaman yang belum pernah kamu coba sebelumnya.

8. Keunggulan Akarisida Ketumbar Dibanding Pestisida Kimia

Selektif dan Aman untuk Musuh Alami Tungau

Salah satu masalah terbesar pestisida kimia sintetis adalah ia membunuh segalanya tanpa pilih-pilih—termasuk predator alami yang seharusnya menjadi sekutu kita. Tungau predator seperti Neoseiulus californicus adalah musuh alami tungau merah yang sangat efektif di alam bebas.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa linalool dari ketumbar relatif selektif—ia toksin yang kuat bagi Tetranychus urticae tetapi jauh lebih aman bagi tungau predator Neoseiulus californicus. Ini menjadikannya sangat ideal untuk dikombinasikan dengan pelepasan agens hayati dalam sistem Manajemen Hama Terpadu (PHT/IPM).

Efek Penolak Telur: Mencegah Sebelum Bertelur

Aroma volatil linalool dari ketumbar tidak hanya membunuh tungau yang sudah ada—ia juga bekerja sebagai bahan penolak oviposisi. Betina tungau dewasa yang mencium aroma ketumbar akan menghindari meletakkan telurnya (oviposition deterrence) pada daun yang sudah disemprot.

Ini efek ganda yang sangat berharga: membasmi yang ada, sekaligus menghambat pertumbuhan populasi generasi berikutnya.

9. Keterbatasan yang Perlu Kamu Ketahui (Jujur dan Apa Adanya)

Kami selalu berusaha jujur dalam setiap konten yang kami buat. Akarisida ketumbar adalah solusi organik yang sangat efektif, tapi bukan solusi ajaib tanpa kelemahan. Ini tiga keterbatasan nyata yang perlu kamu pahami sebelum mulai:

1. Tidak Ada Efek Residu Jangka Panjang

Linalool sangat volatil dan terurai cepat oleh sinar matahari dengan waktu paruh kurang dari 60 menit di udara terbuka. Begitu cairan di daun mengering dan terkena matahari, efek perlindungannya sudah sangat menurun. Ini bukan pilihan untuk petani yang ingin sekali semprot kemudian dilupakan.

2. Memerlukan Frekuensi Semprot Tinggi

Untuk memutus siklus hidup tungau secara tuntas—dari generasi telur ke larva ke dewasa—kamu harus menyemprot secara rutin dan konsisten. Melompati jadwal semprot memberikan jendela waktu bagi populasi tungau untuk pulih kembali.

3. Risiko Fitotoksisitas pada Suhu Tinggi

Minyak atsiri dalam larutan bersifat phototoxic saat terkena sinar matahari langsung dalam konsentrasi tinggi. Penyemprotan di siang hari dapat menyebabkan luka bakar atau nekrosis pada tepi daun, terutama daun muda yang lapisan kultikulanya masih tipis.

10. Tumpangsari Ketumbar: Pencegahan Jangka Panjang yang Efektif

Selain menggunakan air seduhan sebagai semprotan, ada cara lain yang bahkan lebih mudah dan lebih berkelanjutan: tanam ketumbar hidup di antara tanaman utamamu (tumpangsari/intercropping).

Penelitian lapangan menunjukkan bahwa sistem tumpangsari tanaman utama dengan ketumbar hidup mampu menekan tingkat infestasi tungau merah hingga 40–50%. Mekanismenya sederhana: tanaman ketumbar hidup terus-menerus melepaskan senyawa volatil linalool ke udara sekitarnya, menciptakan "zona penghalau" yang tidak disukai tungau betina untuk bertelur.

Cara menerapkannya:

  • Tanam satu baris ketumbar untuk setiap 3–5 baris tanaman utama
  • Posisikan di sisi windward (arah dari mana angin biasanya datang) agar aroma menyebar ke seluruh bedeng
  • Biarkan sebagian ketumbar sampai berbunga—bunga ketumbar juga menarik predator alami seperti parasitoid tawon kecil
  • Panen biji ketumbar matang sebagai stok bahan akarisida sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku

Konsep ini sejalan dengan prinsip bertani organik yang kita pelajari bersama—membangun ekosistem kebun yang seimbang dan mandiri, bukan sekadar membasmi hama satu per satu. Untuk memahami lebih dalam bagaimana tanaman sehat secara alami lebih tahan terhadap serangan hama, baca artikel kami tentang Rahasia Tanaman Cepat Berbuah dengan Hormon Alami—karena tanaman yang nutrisinya optimal adalah tanaman yang paling sulit dihinggapi hama.

11. Jangan Buang Ampasnya! Konsep Zero Waste dari Rebusan Ketumbar

Setelah memeras dan menyaring larutan ketumbar, kamu akan memiliki ampas biji yang sudah kehilangan sebagian minyak atsirinya—tapi masih kaya bahan organik dan senyawa antimikroba lainnya.

Jangan dibuang. Berikut cara memanfaatkannya:

  • Campurkan ke kompos: ampas ketumbar mengandung lignoselulosa dan senyawa fenolik yang mempercepat dekomposisi bahan organik di tumpukan kompos
  • Jadikan mulsa tipis: taburkan tipis-tipis di permukaan tanah di sekitar batang tanaman. Aroma sisa yang masih ada bisa mengusir semut dan serangga tanah yang tidak diinginkan
  • Olah jadi POC dengan bioaktivator: fermentasikan ampas ketumbar bersama air cucian beras dan bioaktivator/MOL cair selama 7–10 hari untuk mendapatkan pupuk organik cair yang kaya mikroba bermanfaat

Konsep zero waste ini adalah jiwa sejati pertanian organik. Dari satu genggam biji ketumbar, kita bisa mendapat akarisida alami sekaligus pupuk organik. Ini mirip filosofi yang kami bahas dalam artikel tentang Cara Membuat Pupuk dari Cangkang Telur—setiap "limbah" dapur sejatinya adalah sumber daya yang belum dimanfaatkan.

🌱 Tingkatkan Hasil dengan Bioaktivator & Alat Monitoring

  • 🦠 Bioaktivator / Bakteri Starter Organik untuk POC (untuk fermentasi ampas ketumbar menjadi pupuk organik cair)

🌿 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!

Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!

▶ Subscribe Sekarang – Gratis!


Referensi Ilmiah

  1. Regnault-Roger, C. et al. (2012). Botanicals Against Tetranychus urticae Koch Under Laboratory Conditions: A Survey of Alternatives for Controlling Pest Mites. PMC / NCBI.
  2. Lommen, S. et al. (2024). Additive intercropping system or acaricides: which one is more efficient to prevent population buildup of two-spotted spider mite? BioOne Complete / Environmental Entomology.
  3. Moreira, J.A. et al. (2023). Investigating chemoreception and behavioural responses of Tetranychus urticae to organic acids, aldehydes and essential oil components. Frontiers in Agronomy.
  4. Tefera, H. et al. (2024). Ecofriendly Management of Two Spotted Spider Mites on Tomato (Solanum lycopersicum Mill.) in Eastern Ethiopia. Science Publications / American Journal of Agricultural and Biological Sciences.
  5. Zhang, Y. et al. (2023). Discovery of selective acetylcholinesterase inhibitors to control Tetranychus urticae (Acari: Tetranychidae). PMC / NCBI.
  6. Camargo, M. et al. (2019). Toxicity of Essential Oil of Mentha piperita and its Monoterpenoid Menthol Against Tetranychus urticae. SciELO / Anais da Academia Brasileira de Ciências.
  7. Keszei, A. et al. (2017). Efficacy of Some Plant Essential Oils Against Two Spotted Spider Mite Tetranychus urticae under Laboratory Conditions. Polish Journal of Environmental Studies.
  8. Campolo, O. et al. (2023). Natural oils as botanical acaricides: linking chemical composition, enzymatic disruption, and antioxidant capacity in the control of Tetranychus urticae. Journal of Plant Protection Research.
  9. Moreira, F.A. et al. (2020). Rosemary essential oil nanoemulsion: formulation, characterization and acaricidal activity against Tetranychus urticae Koch. Biblioteka Nauki / Journal of Plant Protection Research.
  10. Santana, M.F. et al. (2021). Bioactivity of essential oils for the management of Tetranychus urticae Koch and selectivity on its natural enemy Neoseiulus californicus. Acarologia / INRAE.
  11. Fouad, H.A. et al. (2018). Acaricidal and insecticidal properties of Coriandrum sativum oils and their major constituents extracted by three different methods against stored product pests. ResearchGate / Pest Management Science.
  12. Pavela, R. et al. (2017). Chemical composition and insecticidal activity of essential oil from coriander fruit against Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, and Lasioderma serricorne. Taylor & Francis / International Journal of Food Properties.
  13. Msaada, K. et al. (2020). Antioxidant, Antimicrobial and Antibiofilm Activity of Coriander (Coriandrum sativum L.) Essential Oil. PMC / NCBI / Foods.
  14. OECD SIDS (2002). LINALOOL CAS N°: 78-70-6 — SIDS Initial Assessment Report. OECD High Production Volume Chemicals Program.
  15. Tak, J.H. et al. (2010). Acaricidal and quantitative structure activity relationship of monoterpenes against the two-spotted spider mite, Tetranychus urticae. PubMed / Pest Management Science.
Share:

Gardening Tools Kit

Postingan Populer

Tiktok Video

Recent Posts

Beli Sekarang
Harga & promo bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada penjual.