Pernahkah kamu menanam kangkung, panen sekali, lalu langsung mencabutnya sampai ke akar dan membuangnya begitu saja? Kalau iya, kamu tidak sendirian — itu kebiasaan yang sangat umum. Tapi kabar baiknya, ada cara yang jauh lebih cerdas, lebih hemat, dan lebih produktif: metode ratoon atau yang sering disebut sistem panen potong. Dengan metode ini, kangkung yang sudah kamu panen bisa tumbuh lagi, lagi, dan lagi — tanpa harus beli benih baru. Dan ini bukan trik pertanian abal-abal, melainkan ilmu fisiologi tanaman yang sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah dari universitas ternama, termasuk dari Netherlands Journal of Agricultural Science dan Universitas Gadjah Mada.
Rahasia Panen Kangkung 5 Kali dari Satu Tanam: Panduan Lengkap Metode Ratoon untuk Pemula
📋 Daftar Isi
- Apa Itu Metode Ratoon dan Mengapa Cocok untuk Urban Farming?
- Ilmu di Balik Kangkung yang Bisa Tumbuh Lagi: Meristem Aksilar
- Perbandingan Metode Cabut vs Metode Ratoon (Tabel Lengkap)
- Cara Menanam Kangkung yang Cocok untuk Sistem Ratoon
- Panduan Panen Metode Ratoon: Langkah demi Langkah
- Pupuk Organik untuk Kangkung Ratoon: Dosis dan Cara Aplikasi
- Berapa Kali Bisa Panen? Batasan dan Tanda Saatnya Ganti Tanaman
- Bahaya yang Perlu Diwaspadai dalam Kangkung Ratoon
- Tips Sukses untuk Pemula
- FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa Itu Metode Ratoon dan Mengapa Cocok untuk Urban Farming?
Kata ratoon berasal dari bahasa Spanyol retoño, yang artinya tunas muda. Dalam dunia pertanian, metode ratoon adalah teknik memanen tanaman dengan cara dipotong — bukan dicabut — sehingga sisa batang dan akar yang tertinggal di tanah bisa tumbuh kembali dan menghasilkan panen berikutnya.
Kangkung darat (Ipomoea aquatica atau Ipomoea reptans) adalah salah satu sayuran yang paling cocok untuk metode ini. Di lingkungan perkotaan, banyak orang yang menanam kangkung di polybag atau pot di teras rumah, tapi selalu merasa rugi karena harus beli benih lagi setiap bulan.
Dengan metode ratoon, kamu hanya perlu membeli benih satu kali di awal, lalu kangkung akan terus berproduksi selama 4–5 kali panen dari satu siklus tanam yang sama. Ini adalah solusi ideal untuk urban farming, yaitu bertani di rumah dengan lahan terbatas, karena menghemat biaya benih, waktu, dan tenaga sekaligus.
Ilmu di Balik Kangkung yang Bisa Tumbuh Lagi: Meristem Aksilar
Banyak orang bertanya-tanya, "Kok bisa kangkung tumbuh lagi padahal sudah dipotong?" Jawabannya ada di ilmu botani — tepatnya pada bagian kecil yang disebut meristem aksilar.
Apa Itu Meristem Aksilar?
Meristem aksilar adalah jaringan sel aktif yang terletak di ketiak daun, tepatnya di setiap nodus (buku batang) pada kangkung. Jaringan ini ibarat "tombol tidur" yang siap aktif kapan saja.
Dalam kondisi normal, meristem ini tidur karena ditekan oleh hormon auksin yang diproduksi oleh pucuk utama (ujung batang) tanaman. Ini disebut dominansi apikal — pucuk utama "mendominasi" dan menekan pertumbuhan cabang-cabang di bawahnya.
Apa yang Terjadi Saat Kangkung Dipotong?
Ketika kamu memotong pucuk kangkung dengan alat yang tajam, produksi auksin dari ujung batang langsung berhenti. Saat itulah, hormon lain yang bernama sitokinin — yang sudah menunggu di akar — mulai naik ke buku-buku batang yang tersisa.
Sitokinin merangsang pembelahan sel pada kuncup ketiak daun secara cepat. Hasilnya? Dalam waktu 3–7 hari setelah pemotongan, tunas-tunas baru akan mulai bermunculan dari ketiak daun tersebut, dan siap dipanen kembali dalam 14–21 hari berikutnya.
Tunas-tunas baru ini tumbuh lebih cepat dibanding bibit dari benih, karena mereka sudah didukung oleh sistem perakaran yang mapan — akar yang sudah terbentuk sempurna tidak perlu membangun dirinya dari nol lagi.
Mengapa Harus Menyisakan Batang?
Ini penting sekali untuk dipahami, karena banyak pemula yang salah di sini. Ada dua alasan ilmiah mengapa kamu harus menyisakan batang saat memotong:
- Retensi Jaringan Meristem: Menyisakan minimal satu nodus (buku batang) memastikan kuncup ketiak daun tetap utuh sebagai titik tumbuhnya tunas baru. Kalau batang dicabut sampai ke akar, tidak ada nodus yang tersisa, dan tidak ada tunas baru yang bisa muncul.
- Cadangan Karbohidrat: Pangkal batang yang tersisa berfungsi sebagai gudang energi — menyimpan gula dan pati yang akan digunakan sebagai bahan bakar pertumbuhan tunas baru sebelum daun-daun muda bisa berfotosintesis sendiri.
Perbandingan Metode Cabut vs Metode Ratoon (Tabel Lengkap)
Supaya kamu bisa melihat perbandingan yang jelas antara cara lama (cabut) dan cara baru (ratoon), berikut tabel perbandingannya berdasarkan data dari penelitian ilmiah:
| Parameter Agronomis | 🔴 Metode Cabut (Konvensional) | 🟢 Metode Ratoon (Potong) |
|---|---|---|
| Kebutuhan Benih Baru | Diperlukan benih baru di setiap awal siklus | Hanya investasi benih sekali di awal siklus |
| Waktu Siap Panen | 25–30 hari setelah semai benih | 14–21 hari setelah pemotongan |
| Frekuensi Panen | Hanya 1 kali per siklus tanam | 4–5 kali berulang dari 1 siklus tanam |
| Hasil Biomassa Kumulatif | Lebih rendah dalam periode 18 minggu | Lebih tinggi, ada tambahan produk segar dari ratoon |
| Kondisi Perakaran | Rusak total saat pencabutan | Akar tetap aktif menyerap hara |
| Biaya Produksi | Lebih tinggi (beli benih berulang) | Lebih rendah (hemat benih dan tenaga tanam ulang) |
Sumber data: diadaptasi dari Mabbayad & Buac (1978) dalam Netherlands Journal of Agricultural Science; Jurnal FP Universitas Bangka Belitung (2022); Journal of Applied and Natural Science, Sangkula (2017).
Kesimpulannya sudah jelas: dalam jangka panjang, metode ratoon jauh lebih menguntungkan, terutama untuk skala rumah tangga dan urban farming.
Cara Menanam Kangkung yang Cocok untuk Sistem Ratoon
Agar sistem ratoon bisa berjalan maksimal, fondasi dimulai dari pemilihan varietas dan persiapan media tanam yang tepat.
Pilih Varietas yang Tepat
Tidak semua varietas kangkung cocok untuk sistem ratoon. Kamu perlu varietas yang secara genetik memiliki vigor tunas yang kuat dan lambat berbunga (karena kangkung yang cepat berbunga akan lebih fokus pada reproduksi daripada pertumbuhan vegetatif).
Salah satu varietas terbaik yang direkomendasikan untuk sistem panen potong berulang adalah Kangkung Serimpi (Cap Panah Merah) dari PT East West Seed Indonesia. Varietas ini memiliki karakteristik:
- Daun sempit, cocok untuk sistem potong
- Lambat berbunga sehingga masa produksi daun lebih panjang
- Vigor seragam dengan persentase perkecambahan tinggi
- Tahan terhadap sistem pemotongan berulang hingga 5 kali
Persiapan Media Tanam
Kangkung untuk sistem ratoon membutuhkan media yang subur, gembur, dan mampu menahan kelembapan dengan baik. Campuran yang ideal adalah:
- Tanah kebun : 50%
- Kompos matang atau pupuk kandang : 30%
- Sekam padi atau perlite : 20% (untuk aerasi dan drainase)
Untuk menyuburkan tanah dalam jangka panjang, kamu bisa menambahkan asam humat dari kompos matang. Asam humat meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan unsur hara — ini sangat membantu kangkung ratoon yang butuh pasokan hara konsisten setiap siklusnya. Pelajari cara membuatnya di artikel kami: Cara Membuat Asam Humat Alami dari Kompos Matang.
Wadah Tanam
Untuk urban farming, gunakan polybag ukuran 30×30 cm atau 40×40 cm. Polybag lebih praktis dibanding pot karena harganya murah, ringan, dan mudah dipindahkan. Satu polybag ukuran 30×30 bisa diisi 4–6 lubang tanam kangkung.
Cara Semai dan Tanam
- Rendam benih kangkung dalam air hangat selama 6–8 jam sebelum disemai. Benih yang tenggelam adalah benih berkualitas baik.
- Buat lubang tanam sedalam 1–2 cm dengan jarak antar lubang sekitar 5–7 cm.
- Masukkan 2–3 benih per lubang, tutup tipis dengan media tanam, lalu siram secara halus.
- Letakkan di tempat yang mendapat sinar matahari minimal 5–6 jam per hari.
- Benih akan berkecambah dalam 3–5 hari. Kangkung siap panen pertama dalam sekitar 25–30 hari.
Panduan Panen Metode Ratoon: Langkah demi Langkah
Ini adalah bagian paling penting dari seluruh artikel ini. Banyak pemula yang gagal mendapatkan tunas ratoon yang lebat karena salah teknik memotong.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Panen Pertama?
Panen pertama (panen perdana setelah tanam benih) dilakukan saat kangkung berusia 25–30 hari setelah semai, atau ketika tinggi tanaman sudah mencapai 20–30 cm. Jangan tunggu terlalu lama karena kangkung yang sudah berbunga akan lebih sulit menghasilkan tunas ratoon yang berkualitas.
Cara Memotong yang Benar (Kunci Utama Keberhasilan)
Inilah cara pemotongan yang benar berdasarkan ilmu meristem aksilar:
- Gunakan alat yang tajam dan bersih. Gunting dahan (pruning shears) stainless steel adalah pilihan terbaik. Alat yang tumpul akan meremukkan sel batang dan menyebabkan kebusukan di luka potongan.
- Potong tepat di atas buku batang (nodus) pertama atau kedua dari pangkal. Sisakan pangkal batang setinggi 5–10 cm dari permukaan media tanam, pastikan ada minimal 1–2 nodus (buku batang) yang tersisa dengan ketiak daunnya.
- Jangan memotong terlalu rendah. Kalau kamu memotong terlalu dekat dengan tanah tanpa menyisakan nodus, tidak ada meristem aksilar yang bisa tumbuh, dan kangkung tidak akan bisa beregenerasi.
- Lakukan pemotongan di pagi hari saat suhu masih sejuk untuk meminimalkan stres pada tanaman.
Perawatan Segera Setelah Pemotongan
Setelah memotong, ada beberapa hal yang harus segera dilakukan agar tunas baru muncul cepat:
- Siram secukupnya — jaga kelembapan tanah tetap konsisten, tapi jangan sampai tergenang. Sel meristem aksilar sangat sensitif terhadap kekeringan. Penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan dapat menghentikan pembelahan sel meristem secara permanen.
- Berikan pupuk segera — dalam 1–2 hari setelah pemotongan, siramkan pupuk organik cair (POC) atau larutan MOL untuk membantu proses regenerasi tunas baru.
- Hindari injakan atau tekanan di area media tanam agar tidak merusak akar yang sedang aktif menyerap hara.
Pupuk Organik untuk Kangkung Ratoon: Dosis dan Cara Aplikasi
Kangkung ratoon membutuhkan pasokan nutrisi yang teratur, terutama Nitrogen (N) untuk pembentukan klorofil dan protein pada daun-daun baru. Kabar baiknya, semua kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan pupuk organik yang mudah dan murah dibuat sendiri di rumah.
1. Pupuk Organik Cair (POC) dari Air Cucian Beras
Ini adalah POC paling mudah dan paling gratis yang bisa kamu buat sendiri. Air cucian beras mengandung nitrogen, fosfor, kalium, dan berbagai vitamin B yang sangat dibutuhkan kangkung ratoon untuk pertumbuhan cepat tunasnya.
Cara membuat:
- Kumpulkan air cucian beras pertama (yang paling keruh dan kaya nutrisi) dalam botol atau ember.
- Biarkan fermentasi selama 3–5 hari dalam wadah tertutup di suhu ruang.
- Saat sudah berbau sedikit asam segar (bukan busuk), POC sudah siap digunakan.
Dosis dan cara aplikasi:
- Encerkan 1 bagian POC dengan 10 bagian air (1:10)
- Siramkan ke pangkal batang dan area perakaran, bukan ke daun langsung
- Frekuensi: setiap 5–7 hari sekali pada musim kemarau, atau 7–10 hari sekali pada musim hujan
- Aplikasikan pada pagi atau sore hari saat suhu tidak terlalu terik
Pelajari panduan lengkapnya di: Air Cucian Beras Jadi Pupuk Organik Gratis
2. MOL (Mikroorganisme Lokal) / Bioaktivator Organik
MOL adalah bioaktivator cair yang mengandung bakteri pengurai aktif. Fungsinya bukan hanya memupuk, tapi juga mengurai bahan organik di tanah menjadi nutrisi yang langsung siap diserap oleh akar kangkung.
Penggunaan MOL atau bakteri starter sangat dianjurkan dalam sistem kangkung ratoon karena mempercepat mineralisasi hara tanah dan mendukung pemulihan akar setelah stres panen berulang.
Cara membuat MOL sederhana dari limbah dapur:
- Siapkan 500 gram sisa sayur atau buah, 3 sendok makan gula merah, dan 1 liter air.
- Campurkan semua bahan dalam botol plastik, kocok rata.
- Buka tutup sedikit (atau pasang selang ventilasi kecil) untuk membuang gas fermentasi.
- Fermentasikan selama 7–14 hari di tempat teduh hingga berbau seperti tape atau alkohol ringan.
- Saring dan encerkan 1:15 sebelum digunakan sebagai penyiraman.
Dosis dan cara aplikasi MOL:
- Encerkan 50–100 ml MOL dengan 1 liter air (1:10 hingga 1:20)
- Siramkan ke area perakaran, setiap 10–14 hari sekali
- Bisa juga disemprotkan ke batang dan daun kangkung untuk perlindungan tambahan
3. Pupuk Organik Cair (POC) Khusus Sayuran Daun
Jika kamu ingin solusi yang lebih praktis dan langsung siap pakai, kamu bisa menggunakan POC komersial berkualitas yang diformulasikan khusus untuk sayuran daun seperti kangkung, sawi, dan bayam.
Tips pemilihan POC komersial:
- Pilih yang mengandung kadar nitrogen (N) tinggi relatif terhadap P dan K
- Pastikan label mencantumkan "aman untuk sayuran konsumsi"
- Ikuti petunjuk dosis pada kemasan; jangan menambah dosis karena bisa menyebabkan akumulasi nitrat berlebih pada batang kangkung
4. Kalium dari Kulit Pisang untuk Penguatan Batang
Selain nitrogen, kalium (K) sangat penting untuk memperkuat struktur batang kangkung ratoon agar tidak mudah layu dan tumbang. Sumber kalium organik yang paling mudah dan gratis? Kulit pisang!
Pelajari cara lengkap pembuatannya di artikel kami: Cara Membuat Pupuk Organik dari Kulit Pisang.
Berapa Kali Kangkung Bisa Dipanen? Batasan dan Tanda Saatnya Ganti Tanaman
Berdasarkan penelitian ilmiah, kangkung ratoon dapat dipanen secara berulang hingga 4–5 kali dalam satu siklus tanam tanpa menurunkan kualitas sayuran secara signifikan, selama nutrisi tanah tetap terpenuhi.
Varietas Serimpi secara khusus dirancang untuk menahan sistem pemotongan hingga 5 kali produksi. Setelah panen ke-5, biasanya pertumbuhan tunas mulai melambat dan daun yang dihasilkan semakin kecil-kecil — itu tanda bahwa sudah saatnya mengganti dengan tanaman baru.
Tanda-Tanda Kangkung Ratoon Sudah "Habis Masa Produksinya"
- Tunas baru yang muncul semakin sedikit jumlahnya dan sangat kecil ukurannya
- Waktu tumbuh kembali semakin lama dari siklus ke siklus
- Daun mulai menguning meski sudah diberi pupuk
- Batang terlihat berkayu dan keras
- Banyak tunas yang mencoba berbunga sebelum sempat besar
Saat tanda-tanda ini muncul, cabut seluruh tanaman, komposkan akar dan batang tua, lalu siapkan media tanam segar untuk siklus berikutnya.
Bahaya yang Perlu Diwaspadai dalam Kangkung Ratoon
Sebelum kamu antusias menanam kangkung ratoon, ada satu hal penting yang perlu kamu ketahui: kangkung adalah tanaman hiperakumulator. Artinya, ia menyerap mineral dari lingkungan tumbuhnya secara sangat agresif — termasuk hal-hal yang tidak kita inginkan.
Risiko Akumulasi Logam Berat
Penelitian dari Universitas Gadjah Mada (diterbitkan di jurnal Agritech) menunjukkan bahwa kangkung memiliki faktor translokasi yang tinggi untuk logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), besi (Fe), kromium (Cr), mangan (Mn), dan arsenik (As). Kangkung bisa mengangkut logam-logam berbahaya ini dari tanah ke daun — bagian yang kita makan.
Apa implikasinya untuk kangkung ratoon? Semakin sering kangkung dipanen dan dipupuk, semakin tinggi akumulasi zat dari lingkungannya. Jika kamu menggunakan air siraman yang tercemar (misalnya air limbah, air kali yang kotor, atau air got), risiko akumulasi racun di setiap panen berikutnya akan meningkat.
Tips Aman Kangkung Ratoon
- Gunakan air bersih untuk menyiram — air PDAM, air sumur bersih, atau air hujan yang ditampung. Hindari air dari selokan atau kali yang berpotensi tercemar.
- Gunakan media tanam yang bersih dan bebas kontaminan — kompos organik dari limbah dapur jauh lebih aman dibanding tanah pinggir jalan yang mungkin terpapar polutan.
- Cuci bersih kangkung sebelum dikonsumsi — terutama jika ditanam di daerah perkotaan.
- Pantau kandungan nitrat jika kamu memupuk dengan nitrogen dosis tinggi — frekuensi pemupukan N yang berlebihan dapat meningkatkan akumulasi nitrat pada batang kangkung yang dipanen berulang.
Tips Sukses Budidaya Kangkung Potong untuk Pemula
Agar proses ratoon berjalan lancar, berikut ini adalah tips-tips praktis yang sering diabaikan pemula:
1. Pastikan Sinar Matahari Cukup
Kangkung butuh setidaknya 5–6 jam sinar matahari langsung per hari. Tanaman yang kurang cahaya akan menghasilkan tunas yang lemah, langsing, dan berwarna hijau pucat. Letakkan polybag di sudut balkon atau teras yang paling banyak terpapar matahari pagi.
2. Jaga Kelembapan Tanah — Jangan Sampai Kering Total
Ini adalah titik kritis yang paling sering menyebabkan kegagalan ratoon. Penelitian tentang stres kekeringan pada kangkung (Ipomoea reptans) membuktikan bahwa penurunan tekanan turgor sel akibat kekeringan dapat menghentikan pembelahan sel meristem secara permanen. Siram setiap hari di musim kemarau, minimal sekali di pagi hari.
3. Sterilkan Alat Potong Antar Panen
Bersihkan gunting atau pisau dengan alkohol atau rebus sebentar sebelum pindah memotong dari satu polybag ke polybag lain. Ini mencegah penyebaran penyakit bakteri atau jamur antar tanaman melalui luka potongan.
4. Rotasi Pupuk Organik
Jangan hanya mengandalkan satu jenis pupuk. Ganti antara POC air cucian beras, MOL buatan sendiri, dan POC kulit pisang secara bergantian tiap siklus panen. Rotasi pupuk memastikan kangkung mendapatkan spektrum nutrisi yang lebih lengkap dan tanah tidak kekurangan satu unsur tertentu.
5. Perhatikan Panjang Hari (Fotoperiod)
Kangkung cenderung lebih cepat berbunga saat hari menjadi lebih panjang (saat musim kemarau panjang). Jika kangkungmu mulai banyak berbunga sebelum mencapai ukuran panen, cabut bunga tersebut sesegera mungkin (pinching) untuk mengarahkan energi tanaman kembali ke pertumbuhan daun dan tunas vegetatif.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah kangkung yang ditanam di pot bisa dijadikan ratoon?
Bisa, asal pot atau polybag cukup dalam (minimal 20 cm) agar sistem akar bisa berkembang dengan baik. Kangkung ratoon di polybag atau pot sangat populer untuk urban farming karena hemat lahan.
Kangkung saya tidak tumbuh lagi setelah dipotong, apa masalahnya?
Ada beberapa kemungkinan: (1) kamu memotong terlalu rendah sehingga tidak ada nodus yang tersisa; (2) tanah terlalu kering setelah pemotongan; (3) kurang sinar matahari; atau (4) tanah sudah kekurangan nutrisi — coba siramkan POC atau larutan MOL segera setelah pemotongan.
Berapa lama antara satu panen dan panen berikutnya dalam metode ratoon?
Rata-rata 14–21 hari, tergantung intensitas cahaya matahari, suhu lingkungan, dan jumlah nutrisi yang tersedia. Di musim kemarau dengan cahaya penuh, tunas bisa tumbuh lebih cepat. Di musim hujan yang mendung, butuh waktu lebih lama.
Apakah kangkung ratoon rasanya sama dengan kangkung biasa?
Ya, selama nutrisi tanah terjaga, kualitas organoleptik (rasa, tekstur, warna) kangkung ratoon tidak berbeda signifikan dengan panen pertama. Bahkan, beberapa petani menyebut kangkung ratoon generasi kedua terasa lebih empuk karena pertumbuhan tunasnya lebih cepat dan daun lebih muda.
Bisakah metode ratoon diterapkan pada kangkung air (kangkung sawah)?
Secara prinsip bisa, karena mekanisme meristem aksilernya sama. Namun panduan ini difokuskan pada kangkung darat (Ipomoea reptans) yang lebih umum ditanam di urban farming dengan media polybag dan tanah.
🌿 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!
Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!
▶ Subscribe Sekarang – Gratis!📚 Sumber :
- BAB 2 Tinjauan Pustaka — Universitas Muhammadiyah Gresik
- Water Spinach Hydroponic Kratky at Various Levels of PbSO Contamination — Agritech, UGM
- BAB II Tinjauan Kangkung, Media Tanam Arang Sekam dan Sistem Hidroponik — Repo UNPAS
- Ipomoea aquatica (swamp morning-glory) — CABI Compendium
- "Kangkung Cabut", Kangkung yang Bisa Dipanen Berkali-kali — Kompas.com
- Studi Awal Ratun Kangkung pada Sistem Pot Mini — Jurnal Ilmiah FP, UNBARA (2022)
- Post-Ratooning Water Spinach Growth and Production in Aquaponic Farming — ResearchGate
- Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans Poir) — Repository Pertanian RI
- Influence of Nitrogen on Sown and Ratooned Upland Kangkong — Netherlands Journal of Agricultural Science, WUR
- Effect of Cutting Frequencies and Nitrogen Levels on Water Spinach — Journal of Applied and Natural Science
- Pengaruh Pupuk Urea dan Interval Panen terhadap Pertumbuhan Kangkung Air — Neliti
- The Impact of Drought Stress on The Growth of Water Spinach — ResearchGate (2025)
- Growth and Yield of Water Spinach as Influenced by Different Organic Concoctions — MSU Gensan Thesis Repository
- Effect of Vermicompost Using Leguminous Crops on Ratooned Kangkong — CAPSU RDE Journal
- Kiat Menanam Kangkung Darat secara Organik — Serikat Petani Indonesia
- Water Spinach Effectively Absorbs and Accumulates Microplastics — MDPI Agriculture
- Inorganic Nutrient Composition and Frequency of Ratoon on Kangkong in Pot Trial — Jurnal FP Universitas Lampung
- Panduan Panen dan Pasca Panen Kangkung — Scribd










