Perang Kimia Tersembunyi di Tanah: Mengapa Gulma Bisa Meracuni Tanaman Budidaya Anda

Ilustrasi fenomena alelopati – gulma rumput teki melepaskan senyawa alelokimia beracun ke tanah yang menghambat pertumbuhan tanaman budidaya organik di sekitarnya

Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa tanaman tomat di kebunmu tiba-tiba tumbuh kerdil padahal sudah diberi pupuk, disiram rutin, dan mendapat cukup sinar matahari? Atau mengapa tanah di bawah pohon tertentu tampak selalu bersih dari rumput liar seolah ada yang menyingkirkannya? Jawabannya bukan sihir, dan bukan pula hama yang tidak kelihatan. Di bawah permukaan tanah, tanaman-tanaman itu sedang menjalani sebuah perang kimia yang benar-benar nyata — dan berlangsung tanpa henti.

Perang Kimia Tersembunyi di Tanah: Mengapa Gulma Bisa Meracuni Tanaman Budidaya Anda

Apa Itu Alelopati? Pengertian Lengkap untuk Pemula

Alelopati (dalam bahasa Inggris: allelopathy) adalah fenomena fisiologi di mana sebuah tanaman melepaskan senyawa kimia tertentu ke lingkungan sekitarnya yang memberikan efek penghambatan pada perkecambahan, pertumbuhan, atau perkembangan tanaman lain di dekatnya. Singkatnya: ada tanaman yang secara alami "meracuni" tetangganya.

Senyawa kimia yang dilepaskan itu disebut alelokimia (allelochemicals). Ini bukan sekadar persaingan biasa memperebutkan cahaya, air, atau hara. Ini adalah serangan aktif berbasis biokimia yang terjadi langsung di dalam tanah, menggunakan senjata berupa metabolit sekunder yang disintesis oleh tanaman itu sendiri.

Fenomena ini bukan teori yang baru ditemukan. Penelitian dari berbagai lembaga, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Syiah Kuala, sudah membuktikan secara empiris bahwa gulma seperti rumput teki, alang-alang, dan bayam duri memiliki kemampuan alelopatik yang signifikan terhadap tanaman budidaya.

Cara Kerja Alelokimia di Dalam Tanah

Senyawa alelokimia diproduksi di dalam jaringan tanaman melalui dua jalur utama: jalur asam sikimat dan jalur asam mevalonat. Golongan senyawa yang dihasilkan sangat beragam, di antaranya:

  • Asam fenolik – seperti asam ferulat dan asam vanilat, dikenal sebagai penghambat perkecambahan yang kuat
  • Tanin – merusak aktivitas enzim pada tanaman sasaran
  • Terpenoid – mengganggu pembelahan sel dan penyerapan hara
  • Flavonoid – berperan dalam penghambatan pertumbuhan akar

Setelah senyawa-senyawa ini masuk ke dalam tanah (matriks rizosfer), mereka langsung berinteraksi dengan sel-sel akar tanaman yang ada di sekitarnya. Mekanisme toksisitasnya berlangsung melalui beberapa jalur sekaligus:

Stres Oksidatif (Kerusakan Membran Sel)

Paparan alelokimia memicu penumpukan senyawa reaktif berbahaya yang dikenal sebagai ROS (Reactive Oxygen Species). ROS ini merusak membran plasma sel akar, menyebabkan kebocoran elektrolit, dan menghambat kemampuan akar menyerap ion hara seperti nitrogen dan fosfor.

Penghambatan Enzim Vital

Senyawa fenolik dan tanin terbukti merusak enzim-enzim penting seperti peroksidase dan amilase yang berperan dalam metabolisme dan pembelahan sel. Akibatnya, pembelahan sel di jaringan meristem (ujung akar) terhenti.

Gangguan Pertumbuhan Sel

Mitosis pada jaringan meristem akar berhenti, pembesaran sel korteks terhambat, dan laju respirasi selular menurun. Hasilnya terlihat jelas: tanaman kerdil, daun menguning, akar pendek dan lemah.

Empat Jalur Pelepasan Racun Tanaman ke Tanah

Bagaimana senyawa alelokimia bisa sampai ke tanah dan menyerang tanaman lain? Ternyata ada empat cara utama:

1. Eksudasi Akar (Root Exudation)

Ini adalah jalur paling langsung. Bulu-bulu akar secara aktif mengeluarkan senyawa alelokimia ke tanah di sekitarnya. Inilah mengapa gulma seperti rumput teki bisa meracuni tanaman bahkan tanpa bersentuhan secara fisik dengannya.

2. Dekomposisi Bagian Tanaman (Leaf Litter)

Saat daun, batang, atau akar gulma yang mati membusuk di tanah, senyawa alelokimia di dalamnya ikut terlepas ke tanah. Ini juga menjelaskan kenapa tanah yang baru dibersihkan dari gulma bisa tetap "beracun" selama beberapa waktu setelah gulma dicabut.

3. Volatilisasi (Penguapan)

Beberapa senyawa alelokimia bersifat volatil — bisa menguap dari permukaan daun dan batang tanaman. Pada kondisi tertentu, senyawa ini bisa terserap ke dalam tanah setelah mengembun, atau langsung berdampak pada tanaman di dekatnya.

4. Pencucian oleh Air Hujan (Leaching)

Air hujan yang jatuh ke permukaan daun dan batang gulma akan "mencuci" senyawa alelokimia yang ada di sana, kemudian membawanya turun ke tanah dan menyebar ke rizosfer tanaman di sekitarnya.

Gulma Paling Alelopatik yang Wajib Diwaspadai di Kebun Anda

Tidak semua gulma sama tingkat bahayanya. Berikut adalah tiga gulma yang paling terdokumentasi secara ilmiah memiliki efek alelopatik kuat terhadap tanaman budidaya:

Rumput Teki (Cyperus rotundus) – Musuh Utama Petani Organik

Rumput teki adalah salah satu gulma paling invasif di dunia, dan ia juga salah satu yang paling mematikan secara kimia. Senyawa alelokimianya — tanin, asam fenolik, dan terpenoid — terkonsentrasi terutama di bagian umbi. Ini yang membuat teki sangat sulit dibasmi: bahkan jika bagian atasnya dicabut, umbinya tetap melepaskan alelokimia ke tanah.

Penelitian dari Universitas Syiah Kuala yang dipublikasikan di Jurnal Agrista menunjukkan bahwa ekstrak umbi teki bahkan pada konsentrasi terendah sekalipun sudah mampu menghambat perkecambahan benih selada dan merusak aktivitas enzim penting.

Riset lain dari Institut Pertanian Bogor (IPB) memperlihatkan bahwa kombinasi gulma teki bersama Ageratum conyzoides (bandotan) dan Digitaria adscendens (rumput jampang) secara nyata menekan jumlah daun, jumlah cabang, dan bobot buah total tanaman tomat. Penurunan bobot buah total yang tercatat mencapai 25,86% dibandingkan kontrol — hanya gara-gara gulma di sekitarnya.

Umbi rumput teki (Cyperus rotundus) yang mengandung senyawa alelokimia berupa tanin, asam fenolik, dan terpenoid

Alang-alang (Imperata cylindrica) – Si Invasif Pelepas Asam Fenolik

Alang-alang dikenal sebagai salah satu gulma paling sulit dikendalikan di lahan pertanian tropis. Selain bersaing secara fisik memperebutkan air dan hara, alang-alang juga melepaskan alelokimia dari sistem akarnya berupa asam fenolik dan terpenoid. Senyawa-senyawa ini menghambat pemanjangan sel korteks dan menurunkan tinggi batang tanaman yang ada di sekitarnya.

Pada tanaman kacang hijau (Vigna radiata), alelokimia dari alang-alang memperlama fase perkecambahan dan berdampak pada ukuran sel korteks batang tanaman. Dari riset yang ada, dampak ini bersifat progresif — semakin tinggi konsentrasi eksudatnya, semakin besar penghambatannya.

Bayam Duri (Amaranthus spinosus) – Induktor Stres Oksidatif

Bayam duri bukan hanya gulma yang menyakitkan secara fisik karena durinya — ia juga mengandung asam fenolik dan tanin yang menginduksi stres oksidatif pada tanaman sereal di sekitarnya, menghentikan pembelahan sel akar, dan bersaing dalam serapan hara di dalam tanah. Gulma ini termasuk dalam daftar 10 gulma tersulitnya di dunia.

Penelitian dari Universitas Brawijaya (Jurnal Produksi Tanaman, 2017) mencatat bahwa ekstrak umbi teki yang digunakan untuk menekan bayam duri juga terbukti berdampak pada tanaman budidaya seperti jagung manis jika konsentrasinya berlebihan — ini menjadi pengingat penting bahwa alelopati bersifat tidak selektif.

Bukti Ilmiah: Data Riset dari Universitas Indonesia

Studi IPB: Teki, Bandotan & Jampang vs Tomat

Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menguji dampak kombinasi gulma Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides, dan Digitaria adscendens terhadap tanaman tomat (Lycopersicon esculentum). Hasilnya menunjukkan adanya penurunan nyata pada jumlah daun, cabang, dan total bobot buah per tanaman. Penurunan bobot buah total tercatat sebesar 25,86% dibandingkan tanaman kontrol yang bebas dari gulma-gulma tersebut.

Studi Univ. Syiah Kuala: Teki vs Selada

Penelitian Hafsah et al. (2020) dari Universitas Syiah Kuala yang diterbitkan di Jurnal Agrista menguji efek ekstrak umbi teki terhadap selada (Lactuca sativa). Pada konsentrasi terendah pun, ekstrak sudah menghambat perkecambahan dan merusak aktivitas enzim. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, bobot kering selada tertekan dari 5,85 gram (kontrol) menjadi hanya 1,69 gram — penurunan sekitar 71%. Perlu dicatat bahwa angka ini adalah hasil kondisi laboratorium terkontrol, sehingga angka aktual di lapangan terbuka bisa berbeda.

Studi Univ. Brawijaya: Teki vs Bayam Duri & Jagung Manis

Penelitian Siregar et al. (2017) dari Universitas Brawijaya (Jurnal Produksi Tanaman) menguji dua hal sekaligus: kemampuan ekstrak umbi teki menekan pertumbuhan bayam duri sebagai gulma, dan dampak sampingannya pada jagung manis sebagai tanaman budidaya. Pada konsentrasi 3.500 ppm, ekstrak teki mampu menekan bayam duri hingga 54,25% tinggi tumbuhan dan 69,46% bobot keringnya. Namun pada konsentrasi yang sama, tanaman jagung manis juga terdampak: tinggi tanaman tertekan 10,23%, luas daun 49,10%, dan bobot kering 52,16%. Temuan ini menggarisbawahi bahwa alelokimia tidak memilah target — tanaman budidaya pun bisa terdampak jika konsentrasi di tanah terlalu tinggi.

Perbandingan pertumbuhan selada: tanaman kontrol (kiri) tumbuh subur vs tanaman yang terdampak alelokimia gulma (kanan) yang kerdil dan daun menguning

Tabel Ringkasan Data Penelitian Alelopati

Sumber data: (1) IPB Repository 2012 – Studi tomat; (2) Hafsah et al. 2020, Jurnal Agrista Univ. Syiah Kuala; (3) Siregar et al. 2017, Jurnal Produksi Tanaman Univ. Brawijaya; (4) Laksamana, Suri, Purnama 2025, Vegetalika UGM. Semua data adalah hasil kondisi percobaan terkontrol (laboratorium/rumah kaca), bukan data lapang terbuka.
Spesies Alelopatik Senyawa Fitotoksik Tanaman Sasaran Uji Parameter Terdampak Penghambatan / Penurunan
Cyperus rotundus (Rumput Teki) Tanin, Asam Fenolik, Terpenoid Selada (Lactuca sativa) Perkecambahan, Bobot Kering Bobot kering turun ~71% (1,69 g vs 5,85 g kontrol)
Cyperus rotundus + Ageratum conyzoides + Digitaria adscendens Asam Fenolik, Terpenoid Tomat (Lycopersicon esculentum) Jumlah daun, cabang, total bobot buah Bobot buah total turun 25,86%
Imperata cylindrica (Alang-alang) Asam Fenolik, Terpenoid Cabai Rawit (Capsicum frutescens) Tinggi batang, pemanjangan sel akar Penghambatan tinggi batang secara nyata seiring peningkatan dosis
Amaranthus spinosus (Bayam Duri) Asam Fenolik, Tanin Tanaman Sereal Pembelahan sel akar, serapan hara Induksi stres oksidatif (data kuantitatif bervariasi tergantung kondisi percobaan)
Ekstrak umbi Cyperus rotundus 3500 ppm Tanin, Asam Fenolik, Terpenoid Jagung Manis (Zea mays saccharata) sebagai dampak sampingan Tinggi tanaman, luas daun, bobot kering Tinggi tertekan 10,23%; luas daun 49,10%; bobot kering 52,16%

Fenomena Nyata: Kenapa di Bawah Pohon Tertentu Tidak Ada Rumput?

Salah satu manifestasi alelopati yang paling mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari adalah area yang selalu bersih dari vegetasi di bawah kanopi pohon-pohon tertentu. Ini bukan semata-mata karena naungan yang menghalangi sinar matahari — meskipun itu juga berperan. Ada faktor kimia yang bekerja.

Pohon-pohon seperti eukaliptus (Eucalyptus spp.) dan kenari hitam (Juglans nigra) adalah contoh klasik tanaman alelopatik kuat. Serasah daunnya yang membusuk, eksudasi akarnya, dan bahkan penguapan dari permukaannya terus-menerus melepaskan senyawa fitotoksik ke tanah dan udara di sekitarnya, menekan pertumbuhan hampir semua vegetasi yang mencoba tumbuh di bawahnya.

Ketika kamu menemukan kebunmu memiliki tanaman yang selalu tumbuh tidak normal di area tertentu — padahal kondisi tanahnya terlihat baik — ada kemungkinan besar ada aktivitas alelopatik yang sedang berlangsung dari gulma di dekatnya atau dari sisa bahan organik gulma yang belum terdekomposisi sempurna.

Dampak Langsung Alelopati pada Kebun Organik Anda

Sebagai pekebun organik, pemahaman tentang alelopati sangat penting karena beberapa alasan praktis:

Pola Tanam Tumpang Sari yang Gagal

Tidak semua tanaman cocok ditanam berdampingan. Beberapa kombinasi yang terlihat baik secara logika (misalnya menanam kubis di dekat tomat) justru bisa kontraproduktif jika salah satunya melepaskan senyawa yang menghambat pertumbuhan yang lain. Ini bukan sekadar teori — ini adalah salah satu penjelasan ilmiah mengapa beberapa pasangan tumpang sari memberikan hasil mengecewakan.

Untuk panduan lengkap tentang pasangan tanaman yang saling mendukung, baca juga artikel kami tentang Companion Planting Cabai dan Bawang Putih untuk Kebun Organik.

Gulma yang Baru Dicabut Masih "Berbahaya"

Ini yang sering tidak disadari: ketika kamu mencabut rumput teki atau alang-alang, senyawa alelokimia yang sudah telanjur masuk ke tanah tidak langsung hilang. Serasah akar yang tertinggal di tanah juga terus melepaskan senyawa ini selama proses dekomposisi. Itulah mengapa tanah yang baru dibersihkan dari gulma tetap perlu waktu dan perlakuan khusus sebelum bisa ditanami kembali dengan optimal.

Pot dan Polibag Lebih Rentan

Dalam media tanam pot yang terbatas, konsentrasi alelokimia bisa menumpuk lebih cepat dibandingkan lahan terbuka. Jika gulma tumbuh di pot yang sama dengan tanaman budidayamu, efek alelopatiknya akan terasa lebih kuat dan lebih cepat.

Cara Menetralkan Alelopati di Tanah Secara Organik

Kabar baiknya: ada beberapa cara praktis untuk mengurangi dampak alelopati di kebun organik Anda. Kuncinya adalah mempercepat dekomposisi senyawa alelokimia di tanah dan memulihkan keseimbangan ekologi tanah.

1. Olah Tanah dan Biarkan Terpapar Udara

Mengolah tanah (dicangkul atau dibalik) kemudian membiarkannya terkena sinar matahari selama beberapa hari membantu mempercepat volatilisasi dan oksidasi senyawa alelokimia yang ada di lapisan atas tanah. Ini langkah pertama yang paling sederhana dan tidak memerlukan biaya apapun.

Beli Sekarang
Harga & promo bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada penjual.

2. Tambahkan Bioaktivator atau MOL Pengurai

Mikroorganisme pengurai (bioaktivator, MOL, atau bakteri starter) berperan penting dalam memecah senyawa alelokimia menjadi senyawa yang tidak berbahaya bagi tanaman. Siramkan bioaktivator cair ke area yang diduga terkontaminasi alelokimia, 1–2 kali per minggu selama 2–4 minggu pertama setelah gulma dibersihkan.

Beli Sekarang
Harga & promo bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada penjual.

Encerkan bioaktivator dengan rasio 1:10 hingga 1:20 (1 bagian bioaktivator dengan 10–20 bagian air bersih), lalu siramkan merata ke permukaan tanah. Hindari aplikasi di siang hari saat matahari terik untuk menjaga viabilitas mikroorganisme.

Baca juga bagaimana bakteri tanah bekerja memulihkan keseimbangan tanah di artikel kami: Siklus Rizofagi: Cara Akar Tanaman Menyerap Nutrisi dari Bakteri PGPR.

3. Tambahkan Bahan Organik (Kompos)

Kompos matang membantu meningkatkan kapasitas penyangga tanah (buffer capacity) dan mendorong aktivitas mikroba pengurai. Selain itu, bahan organik juga membantu mengikat (adsorpsi) sebagian senyawa alelokimia sehingga tidak langsung tersedia untuk menyerang akar tanaman. Campurkan kompos matang dengan perbandingan minimal 20–30% dari volume media tanam yang akan diperbaiki.

Beli Sekarang
Harga & promo bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada penjual.

4. Perbaiki pH Tanah Jika Diperlukan

Beberapa senyawa alelokimia lebih aktif pada pH tanah tertentu. Menjaga pH tanah pada rentang yang optimal (6,0–7,0 untuk sebagian besar sayuran) membantu mengurangi ketersediaan dan efektivitas senyawa fitotoksik ini. Kapur pertanian (dolomit) bisa digunakan untuk menaikkan pH tanah yang terlalu asam.

5. Rotasi Tanaman

Jangan menanam jenis tanaman yang sama di area yang sama secara terus-menerus. Rotasi tanaman membantu memutus siklus penumpukan senyawa alelokimia yang spesifik terhadap jenis tanaman tertentu, sekaligus memperbarui komunitas mikroba tanah.

Cara menetralkan alelopati gulma dengan mengaplikasikan bioaktivator atau MOL cair ke permukaan tanah kebun organik

Sisi Positif: Potensi Bioherbisida Organik dari Alelokimia

Di balik dampak negatifnya bagi tanaman budidaya, fenomena alelopati menyimpan potensi yang sangat menjanjikan dalam pertanian organik masa depan: pengembangan bioherbisida — herbisida alami berbasis senyawa tumbuhan yang ramah lingkungan.

Berbeda dengan herbisida kimia sintetis yang residunya bisa bertahan lama di tanah dan air, bioherbisida berbasis alelokimia bersifat biodegradable — terurai secara alami oleh mikroba tanah. Ini adalah nilai tambah yang sangat signifikan dari perspektif pertanian organik dan kelestarian lingkungan.

Asam Ferulat dan Asam Vanilat: Kandidat Bioherbisida Terkuat

Tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Vegetalika UGM (Laksamana, Suri & Purnama, 2025) menyebutkan bahwa senyawa asam ferulat dan asam vanilat — yang bisa diisolasi dari beberapa tanaman termasuk dari spesies Senna — menunjukkan efek sinergis yang kuat dalam menghambat perkembangan akar gulma. Pada pengujian laboratorium, asam ferulat menunjukkan nilai IC50 (konsentrasi yang menghambat 50% pertumbuhan) yang lebih rendah dibandingkan asam vanilat, artinya lebih potensial.

Tantangan: Belum Bisa Langsung Diterapkan di Ladang

Meski potensinya besar, perlu dicatat bahwa sebagian besar riset bioherbisida berbasis alelokimia masih berada di tahap laboratorium dan rumah kaca. Efektivitasnya di lapangan terbuka dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pH tanah, suhu, curah hujan, dan aktivitas mikroba. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum bioherbisida ini bisa menjadi solusi praktis skala lahan.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Alelopati

Apakah alelopati sama dengan persaingan tanaman biasa?

Tidak. Persaingan biasa terjadi karena perebutan sumber daya fisik seperti air, cahaya, dan hara. Alelopati adalah mekanisme yang berbeda: tanaman secara aktif melepaskan senyawa kimia yang berdampak langsung pada fisiologi tanaman lain, bahkan tanpa ada kontak fisik dan bahkan ketika sumber daya lingkungan mencukupi untuk semua tanaman.

Apakah semua gulma bersifat alelopatik?

Tidak semua. Kemampuan alelopatik bervariasi antar spesies dan bahkan antar varietas dalam spesies yang sama. Rumput teki, alang-alang, dan bayam duri termasuk yang paling kuat terdokumentasi, namun tidak semua gulma memiliki efek yang sama signifikannya.

Bisakah tanaman organik seperti tomat juga bersifat alelopatik?

Ya. Banyak tanaman budidaya juga memiliki sifat alelopatik dalam kadar tertentu. Ini adalah salah satu alasan mengapa companion planting atau tumpang sari perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kompatibilitas antar tanaman. Beberapa pasangan tanaman saling mendukung, sementara yang lain saling menghambat.

Apakah tanah bekas ditumbuhi teki langsung aman untuk ditanami?

Tidak langsung. Senyawa alelokimia dari teki yang sudah masuk ke tanah perlu waktu untuk terurai. Menambahkan bioaktivator, mengolah tanah, dan membiarkannya beristirahat selama 2–4 minggu sebelum ditanami kembali adalah langkah bijak.

🌿 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!

Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!

▶ Subscribe Sekarang – Gratis!

Kesimpulan

Fenomena alelopati mengubah cara kita memandang gulma. Mereka bukan sekadar pesaing yang memperebutkan air dan hara — mereka adalah pelaku perang kimia aktif yang bisa meracuni tanaman budidaya kita dari dalam tanah, tanpa terlihat, tanpa kita sadari.

Bukti ilmiah dari berbagai penelitian di Indonesia — termasuk dari IPB, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Brawijaya — menegaskan bahwa dampak ini nyata dan terukur. Penurunan bobot buah tomat, terhambatnya pertumbuhan selada, bahkan dampak pada jagung manis yang seharusnya adalah tanaman budidaya, semuanya bisa terjadi semata-mata karena kehadiran gulma alelopatik di dekatnya.

Solusinya bukan panik, melainkan paham. Dengan mengenali gulma mana yang alelopatik, bagaimana cara mereka bekerja, dan langkah-langkah organik apa yang bisa diambil untuk menetralisasi dampaknya, kita bisa menjadi pekebun yang lebih cerdas dan lebih bijak dalam mengelola ekosistem kebun kita.

Dan di sisi positifnya: senyawa-senyawa yang sama yang menjadi "senjata" gulma ini sedang diteliti para ilmuwan sebagai kandidat bioherbisida organik masa depan. Perang kimia tanaman ini, jika kita pelajari dengan seksama, justru bisa menjadi sekutu kita dalam pertanian organik yang lebih berkelanjutan.

📚 Sumber Penelitian

  1. Pengaruh Alelopati Gulma Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides dan Digitaria adscendens Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat – IPB Repository. https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53365
  2. Laksamana, H., Suri, A., & Purnama, I. (2025). Alelopati dan Masa Depan Bioherbisida Berbasis Tumbuhan: Pengaruh Genetik dan Lingkungan – Sebuah Tinjauan. Vegetalika, Vol. 14 No. 3. https://journal.ugm.ac.id/jbp/article/download/101403/42343
  3. Hafsah, S., Hasanuddin, Erida, G., & Nura. (2020). Efek Alelopati Teki (Cyperus rotundus) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada. Jurnal Agrista, 24(1). https://doi.org/10.17969/agrista.v24i1.18843
  4. Siregar, E.N., Nugroho, A., & Sulistyono, R. (2017). Uji Alelopati Ekstrak Umbi Teki pada Gulma Bayam Duri (Amaranthus spinosus L.) dan Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. saccharata). Jurnal Produksi Tanaman, 5(2): 290–298. Universitas Brawijaya. https://media.neliti.com/media/publications/190356-ID-none.pdf
  5. Pengaruh Alelopati Ekstrak Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens). Jurnal Pertanian Unggul, STIPER Flores Bajawa. https://ejournal.stiperfb.ac.id/index.php/jurnalpertanianunggul/article/view/24
Share:

Gardening Tools Kit

Postingan Populer

Tiktok Video

Recent Posts

Beli Sekarang
Harga & promo bisa berubah sewaktu-waktu bergantung pada penjual.