Anda pernah mencabut rumput dari tanah, menggoyangkannya pelan, tetapi sebagian tanah tetap melekat pada akar seperti selubung tipis? Jangan buru-buru menganggapnya hanya tanah yang menggumpal. Ada fenomena biologis yang memang membuat tanah melekat kuat pada permukaan akar—dan para ilmuwan memberinya nama rhizosheath.
Kenapa Tanah Menempel di Akar Tanaman? Mengenal Rhizosheath dan Bedanya dengan Root Ball
Intinya
Rhizosheath adalah tanah yang tetap menempel kuat pada akar setelah akar dicabut dan digoyangkan. Rambut akar, eksudat akar yang berlendir, dan aktivitas bakteri penghasil eksopolisakarida dapat berperan dalam pembentukannya. Namun, ketebalan dan kekuatannya tidak sama pada semua tanaman, dan manfaatnya untuk tanaman pot rumahan belum dapat dianggap terbukti secara umum.
Daftar Isi
- Apa itu rhizosheath?
- Dari tanaman gurun hingga penelitian tanaman budidaya
- Bagaimana rhizosheath terbentuk?
- Mengapa rambut akar sangat penting?
- Apa fungsi rhizosheath bagi tanaman?
- Fakta unik: ketika lendir akar justru menolak air
- Mengapa rhizosheath tidak sama pada semua tanaman?
- Rhizosheath, rizosfer, dan root ball: jangan sampai tertukar
- Bagaimana dengan tanaman sayur di pot?
- Apa yang perlu diperhatikan saat pindah tanam?
- Eksperimen sederhana untuk mengamati tanah yang menempel di akar
- Pertanyaan yang sering muncul
- Kesimpulan
Apa Itu Rhizosheath?
Secara sederhana, rhizosheath adalah tanah yang menempel kuat pada akar setelah akar dikeluarkan dari tanah. Definisi ini sengaja dibuat operasional: peneliti tidak sekadar melihat bahwa akar terlihat kotor oleh tanah, tetapi menilai berapa banyak tanah yang masih melekat setelah akar mengalami gangguan tertentu.
Karena metode penelitian berbeda-beda, cara menentukan apakah tanah tersebut benar-benar “menempel kuat” juga dapat berbeda. Ada penelitian yang menggunakan penggoyangan, sementara metode lain menggunakan gangguan lebih kuat hingga sonikasi, yaitu penggunaan getaran ultrasonik di dalam air. Artinya, hasil pengukuran rhizosheath perlu dibaca sesuai metode yang digunakan penelitinya.
Bentuknya dapat terlihat sangat sederhana ketika diamati di kebun: akar keluar dari tanah membawa lapisan media yang masih bertahan di antara rambut-rambut akar. Justru di balik tampilan sederhana itulah terjadi interaksi fisik dan biologis antara akar, tanah, senyawa yang dilepas akar, dan mikroorganisme.
Dari Tanaman Gurun hingga Penelitian Tanaman Budidaya
Fenomena rhizosheath pertama kali ditemukan pada tanaman gurun oleh Volkens pada 1887. Pada masa penelitian modern, perhatian terhadap fenomena ini berkembang karena lapisan tanah yang melekat pada akar dipandang sebagai salah satu sifat akar yang berpotensi membantu tanaman menghadapi kondisi lingkungan yang berat.
Penelitian kemudian tidak berhenti pada tanaman gurun. Rhizosheath juga diamati pada banyak kelompok tumbuhan berbunga. Sebuah pengujian rumah kaca yang dirujuk dalam literatur menunjukkan keberadaannya pada banyak ordo angiosperma. Dalam ringkasan yang diverifikasi, pengujian tersebut mencakup 58 spesies.
Namun, penting membedakan “ditemukan pada banyak spesies” dengan “semua tanaman membentuknya dalam kadar yang sama”. Dua hal itu tidak sama. Literatur justru menunjukkan adanya variasi yang cukup besar, termasuk tanaman yang tidak membentuk rhizosheath atau hanya membentuk selubung yang kurang berkembang.
Bagaimana Rhizosheath Terbentuk?
Rhizosheath bukan hasil satu proses tunggal. Dari literatur yang dirangkum dalam riset ini, ada tiga pemain utama yang saling berhubungan.
1. Rambut akar menjerat partikel tanah
Rambut akar adalah perpanjangan sangat halus dari sel epidermis akar. Dalam konteks rhizosheath, rambut akar membantu menciptakan kontak fisik dengan butiran tanah. Jaringan rambut yang rapat dapat menjerat partikel sehingga tanah lebih mudah tetap berada di dekat permukaan akar.
2. Akar melepaskan eksudat yang dapat bersifat lengket
Akar tidak hanya tumbuh dan menyerap air serta hara. Akar juga melepaskan berbagai eksudat. Sebagian eksudat mengandung polisakarida kompleks, yaitu senyawa gula berukuran besar yang dapat mempunyai kemampuan mengikat partikel tanah.
Penelitian pada jelai menunjukkan bahwa perubahan pada eksudat berkaitan dengan kemampuan tanah untuk terikat. Pada mutan jelai tanpa rambut akar, kompleks polisakarida pengikat tanah tertentu ditemukan dalam jumlah lebih rendah dibanding tanaman normal. Peneliti mengusulkan bahwa rambut akar ikut berperan dalam pelepasan kompleks perekat tersebut.
3. Bakteri tanah dapat mengubah dan memperkuat bahan perekat
Di sekitar akar hidup komunitas mikroba. Salah satu kelompok yang dibahas dalam literatur rhizosheath adalah bakteri penghasil exopolysaccharide atau EPS. Istilah ini dapat dipahami sebagai polisakarida yang dihasilkan di luar sel bakteri dan dapat berfungsi sebagai perekat biologis.
Ulasan ilmiah yang diverifikasi menyebut bahwa transformasi eksudat akar oleh bakteri penghasil EPS dapat berkontribusi pada agregasi tanah dan memperbesar volume tanah yang melekat pada akar. Ada pula hasil yang menunjukkan inokulasi bakteri penghasil EPS dapat meningkatkan kandungan EPS tanah dan mendorong pembentukan rhizosheath pada kondisi tertentu.
| Komponen | Peran yang dilaporkan | Catatan bukti |
|---|---|---|
| Rambut akar | Membantu menjerat partikel tanah secara fisik dan berkaitan dengan pelepasan bahan pengikat. | Bukti eksperimen kuat pada jelai dan pengujian lintas spesies, dengan pengecualian antarspesies. |
| Eksudat berlendir | Mengandung polisakarida kompleks yang dapat membantu mengikat tanah. | Dukungan cukup kuat pada serealia; sebagian mekanismenya masih berupa usulan peneliti. |
| Bakteri penghasil EPS | Dapat mengubah eksudat, berkontribusi pada agregasi, dan pada kondisi tertentu mendorong pembentukan rhizosheath. | Bukti berasal dari ulasan dan studi inokulasi; sebagian besar masih dari kondisi terkendali. |
Caption: Ringkasan mekanisme pembentukan rhizosheath berdasarkan literatur yang tercantum pada riset; tabel ini bukan tabel data eksperimen tunggal.
Mengapa Rambut Akar Sangat Penting?
Salah satu bukti paling mudah dipahami datang dari penelitian pada jelai. Peneliti membandingkan jelai normal dengan mutan yang hampir tidak memiliki rambut akar. Hasilnya, akar jelai normal mengikat sekitar 5 kali lebih banyak tanah per satuan panjang akar dibanding mutan tanpa rambut akar.
Angka yang lebih rinci dalam riset adalah sekitar 4,8 kali setelah dikoreksi per panjang akar. Percobaan menggunakan tanaman muda yang dipanen pada 12, 19, dan 26 hari setelah tanam, ditanam dalam pot 4 liter berisi tanah lempung berliat di rumah kaca dan disiram setiap dua hari.
Temuan ini memberi gambaran kuat tentang kontribusi rambut akar. Tetapi ada satu nuansa penting: rambut akar bukan syarat mutlak pada setiap spesies. Literatur yang dirujuk menyebut Potentilla acaulis, misalnya, tetap dapat membentuk rhizosheath meskipun tidak memiliki rambut akar.
Selain itu, panjang rambut akar tidak selalu berkorelasi dengan ukuran rhizosheath. Hubungan tersebut tidak sesederhana “semakin panjang rambut akar, semakin tebal selubung tanah”. Faktor lain seperti jenis tanah, air, eksudat, dan mikroorganisme juga ikut menentukan.
Apa Fungsi Rhizosheath bagi Tanaman?
Di sinilah kita perlu menahan diri dari kesimpulan yang terlalu cepat. Rhizosheath memang dipandang sebagai sifat akar yang menarik, tetapi literatur yang dirangkum dalam riset menekankan bahwa manfaatnya belum sepenuhnya terbukti secara umum. Sebagian besar penelitian dilakukan dalam laboratorium atau kondisi terkendali, dan validasi lapangan masih terbatas.
Berpotensi membantu saat air dan hara terbatas
Ulasan ilmiah mengaitkan rhizosheath dengan potensi membantu tanaman menghadapi cekaman air, kekurangan nitrogen dan fosfor, serta tanah masam. Salah satu gagasan yang dibahas adalah lapisan tanah yang tetap berada dekat akar dapat membantu mempertahankan hubungan antara akar dan tanah ketika kondisi menjadi lebih kering.
Berpotensi membantu hubungan air di antarmuka akar–tanah
Ulasan lain menjelaskan bahwa rhizosheath dapat mengurangi terbentuknya celah udara antara akar dan tanah dan memfasilitasi perpindahan air di antarmuka tersebut. Dalam riset yang menjadi dasar artikel ini, klaim ini diberi catatan bahwa ulasan tersebut merujuk pada penelitian kaktus Opuntia; karena studi primer itu belum dibaca langsung, klaimnya sebaiknya diperlakukan sebagai temuan yang dikutip dalam ulasan, bukan fakta universal untuk semua tanaman.
Menjadi habitat mikroba di sekitar akar
Pada rumput gurun, sistem rhizosheath–akar dilaporkan mempunyai komunitas bakteri yang berbeda dari pasir di sekitarnya dan relatif stabil antarmusim. Penelitian lain pada lingkungan gurun melaporkan sistem rhizosheath–akar yang lebih sejuk, lebih lembap, dan lebih kaya hara daripada tanah di sekitarnya.
Namun, bukti tersebut berasal dari tanaman gurun dan sistem rhizosheath–akar. Jangan langsung mengubahnya menjadi klaim bahwa setiap pot sayuran akan memiliki suhu tanah yang lebih rendah atau lingkungan akar yang otomatis lebih subur hanya karena ada tanah yang menempel pada akar.
Catatan penting tentang bukti
Literatur menyebut peran rhizosheath dalam ketahanan dan produktivitas tanaman masih kontroversial dan belum sepenuhnya terbukti. Bahkan, sulit menentukan apakah rhizosheath menyebabkan tanaman lebih mampu beradaptasi, atau justru tanaman yang sudah lebih cocok pada kondisi tertentu cenderung membentuk rhizosheath lebih baik.
Fakta Unik: Ketika Lendir Akar Justru Menolak Air
Salah satu bagian paling menarik dari penelitian akar adalah bahwa bahan berlendir tidak selalu berarti “semakin mudah dibasahi”. Pada jagung, sebuah studi melaporkan bahwa rizosfer dapat tetap kering untuk sementara setelah irigasi, dan lendir akar yang sudah mengering dapat menjadi water repellent, atau menolak air, ketika dibasahi kembali.
Temuan serupa, dalam konteks rizosfer, juga dilaporkan pada lupin setelah pengeringan berat lalu pembasahan ulang. Addesso dan kolega juga mencatat bahwa dalam kondisi basah, sebagian lendir dapat larut sehingga kekuatan rhizosheath berkurang.
Perhatikan istilahnya: yang diukur pada studi jagung dan lupin tersebut adalah rizosfer, bukan semata-mata rhizosheath. Jadi fakta ini menarik untuk memahami perilaku tanah di sekitar akar, tetapi tidak boleh ditulis sebagai “rhizosheath semua tanaman otomatis menolak air”.
Mengapa Rhizosheath Tidak Sama pada Semua Tanaman?
Karena pembentukannya dipengaruhi banyak faktor, rhizosheath bukanlah fitur yang seragam. Penelitian lintas tanaman menunjukkan ada variasi keberadaan, kekuatan, dan ukurannya.
Tidak semua tanaman membentuknya dengan jelas
Studi lapangan di gurun Xinjiang menemukan struktur rhizosheath yang jelas pada 15 dari 67 spesies tanaman semusim berumur pendek yang diamati. Dari 15 spesies pembentuk tersebut, Poaceae atau kelompok rumput menjadi kelompok yang paling banyak, sekitar 40 persen.
Habitat berpasir dalam studi tersebut juga lebih mendukung pembentukan rhizosheath dibanding habitat berkerikil. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa tanaman dan lingkungan tidak bisa dipisahkan ketika kita membahas fenomena ini.
Kekeringan dapat memberi respons berbeda menurut varietas
Pada 38 varietas jagung yang diuji, kekeringan menghambat pembentukan makroagregat stabil di rhizosheath dan responsnya berbeda antarvarietas. Jadi, bahkan di dalam satu jenis tanaman pun responsnya dapat bervariasi.
Padi memberi contoh bahwa kondisi air penting
Pada padi, rhizosheath terlihat jelas pada kondisi pengeringan tanah moderat tetapi tidak pada penggenangan terus-menerus. Ini bukan rekomendasi agar tanaman pot sengaja dikeringkan. Temuan tersebut hanya menunjukkan bahwa kondisi air tanah dapat memengaruhi pembentukan rhizosheath pada tanaman tertentu.
Rhizosheath, Rizosfer, dan Root Ball: Jangan Sampai Tertukar
Tiga istilah ini bisa terlihat mirip ketika kita melihat tanaman dicabut dari media, padahal maknanya berbeda.
| Istilah | Arti | Cara membedakannya secara sederhana |
|---|---|---|
| Rizosfer | Zona tanah yang dipengaruhi akar secara kimiawi dan biologis. | Cakupannya lebih luas daripada tanah yang terlihat melekat langsung pada akar. |
| Rhizosheath | Tanah yang melekat kuat secara fisik pada akar. | Tetap menempel setelah akar dicabut dan diganggu sesuai metode pengukuran. |
| Root ball | Gumpalan media pot yang terbentuk karena jalinan akar yang padat. | Lebih merupakan gumpalan media dan akar dari sistem pot, bukan definisi khusus tentang tanah yang melekat kuat pada permukaan akar. |
Caption: Perbandingan istilah disusun dari definisi rhizosphere dan rhizosheath dalam literatur yang dirujuk serta pengertian hortikultura umum untuk root ball.
Jadi, akar tanaman pot yang dicabut membawa gumpalan media belum tentu seluruh gumpalan tersebut adalah rhizosheath. Bisa saja di sana ada campuran tanah yang benar-benar melekat pada akar, akar yang saling membelit, hifa jamur, dan partikel organik halus. Proporsi masing-masing tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat satu gumpalan.
Bagaimana dengan Tanaman Sayur di Pot?
Ini bagian yang paling penting untuk pekebun rumahan. Berdasarkan pencarian yang dirangkum dalam riset, belum ditemukan studi langsung yang menguji rhizosheath pada media pot rumahan berbahan seperti cocopeat, sekam, kompos dan sayuran. Itu bukan bukti bahwa penelitian semacam itu sama sekali tidak pernah ada di dunia; ini adalah batas dari pencarian yang dilakukan.
Studi pada tomat memang menunjukkan bahwa pengeringan tanah meningkatkan bobot rhizosheath tanaman normal dan hormon ABA berperan dalam proses tersebut. Tetapi penelitian itu bukan eksperimen sederhana pada pot sayuran rumahan dengan resep media tertentu.
Karena itu, sebaiknya kita tidak mengatakan cabai, tomat, sawi, atau tanaman lain pasti membentuk rhizosheath setebal jagung atau serealia. Yang dapat kita katakan adalah bahwa mekanisme tanah–akar–eksudat–mikroba ini merupakan area penelitian yang menarik, sementara penerapannya pada pot rumah tangga masih memerlukan pembuktian yang lebih spesifik.
Bagi pembaca yang ingin memahami konteks lingkungan hidup akar, Anda juga dapat membaca artikel Cara Membuat Living Soil di Pot. Artikel tersebut membahas media sebagai ekosistem biologis, sedangkan rhizosheath di sini lebih spesifik pada tanah yang melekat kuat di akar.
Hubungan dengan mikroba juga bisa dibaca melalui artikel Jamur Mikoriza: Internet Rahasia Akar Tanaman. Namun, jangan menyamakan mikoriza dengan rhizosheath. Mikoriza adalah hubungan simbiosis jamur dengan akar, sedangkan rhizosheath adalah massa tanah yang melekat kuat pada akar.
Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Pindah Tanam?
Ada satu saran umum yang masuk akal untuk dipertimbangkan: jangan mencuci akar sampai benar-benar bersih atau mengorek gumpalan media dengan kasar tanpa alasan. Tujuannya bukan karena setiap gumpalan media pasti rhizosheath, melainkan untuk mengurangi gangguan yang tidak perlu pada sistem akar.
Riset tentang metode pengambilan sampel rhizosheath sendiri menunjukkan bahwa gangguan yang kasar dapat merusak akar dan menghilangkan tanah yang melekat. Hubungannya dengan pindah tanam bersifat analogi, bukan hasil uji langsung pada teknik repotting rumah tangga. Karena itu, saran ini jangan diperlakukan sebagai aturan mutlak untuk semua tanaman.
Jika akar memang mengalami masalah seperti busuk akar, prioritas penanganannya tentu berbeda. Dalam kondisi seperti itu, mempertahankan gumpalan media tidak boleh mengalahkan kebutuhan untuk menangani akar yang bermasalah.
Untuk memahami mengapa keseimbangan air dan udara penting bagi akar, Anda dapat membaca panduan internal Kesalahan Fatal: Terlalu Banyak Air pada Tanaman Cabai Organik. Sekali lagi, artikel tersebut membahas overwatering pada cabai; kaitannya dengan rhizosheath di sini adalah pada pentingnya memperhatikan kondisi air di media, bukan karena keduanya merupakan fenomena yang sama.
Eksperimen Sederhana untuk Mengamati Tanah yang Menempel di Akar
Riset yang dihimpun juga memungkinkan kita membayangkan sebuah aktivitas observasi sederhana di rumah. Ini bukan protokol penelitian yang tervalidasi, melainkan cara belajar dari konsep pengukuran rhizosheath.
Yang dibandingkan
Pilih tanaman muda seperti rumput atau jagung yang mudah dicabut tanpa merusak akar secara ekstrem. Bandingkan dengan satu jenis tanaman lain yang tumbuh pada kondisi tanah yang berbeda atau pada tahap pertumbuhan berbeda. Tujuannya bukan mencari “pemenang”, tetapi melihat bahwa jumlah tanah yang melekat dapat bervariasi.
Prinsip pengukuran
Dalam penelitian, salah satu cara kuantifikasi menggunakan rasio massa tanah kering yang menempel terhadap massa akar kering. Untuk kegiatan rumah, konsepnya dapat diamati dengan menimbang massa bahan yang melekat setelah dikeringkan sampai beratnya konstan, kemudian membandingkannya dengan massa akar kering.
Yang perlu diingat, kondisi tanah, kelembapan, spesies, umur tanaman, dan metode pengambilan sampel dapat memengaruhi hasil. Jadi, jangan mengubah percobaan sederhana ini menjadi klaim bahwa satu jenis tanaman “lebih sehat” hanya karena membawa gumpalan tanah lebih banyak.
Cara melihat hasil secara jujur
Tanah yang lebih banyak menempel berarti rhizosheath lebih besar menurut ukuran yang digunakan—bukan otomatis berarti tanaman pasti lebih subur, lebih tahan penyakit, atau menghasilkan panen lebih banyak.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah rhizosheath sama dengan tanah lengket?
Tidak persis. Istilah rhizosheath dipakai untuk tanah yang tetap melekat kuat pada akar setelah akar dicabut dan mengalami gangguan sesuai metode pengukuran. Jadi, sekadar melihat akar basah dengan sedikit tanah yang menempel belum cukup untuk menyimpulkan bahwa itu rhizosheath yang kuat.
Apakah semua tanaman punya rhizosheath?
Tidak dapat dikatakan begitu. Studi lintas spesies menunjukkan adanya variasi. Ada tanaman yang membentuknya jelas, ada yang lemah, dan ada yang tidak membentuknya dalam kondisi tertentu.
Apakah semakin tebal rhizosheath berarti tanaman semakin sehat?
Belum tentu. Rhizosheath adalah satu sifat yang dipelajari peneliti. Literatur juga menekankan bahwa hubungan sebab-akibatnya belum selalu jelas. Jangan menjadikan ketebalan tanah yang melekat sebagai alat diagnosis tunggal kesehatan tanaman.
Apakah tanaman sayur di pot pasti membentuk rhizosheath?
Belum ada dasar yang cukup untuk mengatakan demikian. Pencarian yang dirangkum dalam riset belum menemukan studi langsung pada kombinasi media pot rumahan dan sayuran yang Anda gunakan sehari-hari.
Apakah akar harus selalu dicuci bersih saat pindah pot?
Tidak ada alasan untuk selalu mencuci bersih akar. Sebagai saran umum, gumpalan media yang masih baik dapat dipertahankan untuk mengurangi gangguan. Namun, tanaman dengan akar busuk atau masalah lain memerlukan penanganan yang berbeda.
Apakah tanah yang menempel pada akar berarti tanahnya sehat?
Tidak otomatis. Rhizosheath menunjukkan adanya tanah yang melekat kuat pada akar, tetapi itu bukan satu-satunya ukuran kesehatan tanah. Kondisi air, struktur media, akar, bahan organik, dan komunitas mikroba tetap merupakan bagian dari sistem yang lebih luas.
Kesimpulan: Gumpalan Tanah di Akar Bisa Punya Cerita Panjang
Saat rumput atau tanaman muda dicabut dan tanah masih menempel erat pada akar, kita sedang melihat sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar akar yang membawa sedikit tanah.
Itulah rhizosheath: tanah yang melekat kuat pada akar dan terbentuk melalui interaksi antara permukaan akar, rambut akar, eksudat, tanah, serta mikroorganisme. Pada jelai, perbedaan antara tanaman normal dan mutan tanpa rambut akar bahkan mencapai sekitar lima kali lebih banyak tanah yang terikat per satuan panjang akar.
Tetapi justru karena fenomena ini menarik, kita perlu menjaga cara membicarakannya tetap jujur. Rhizosheath tidak sama kuat pada semua tanaman. Tidak semua tanaman membentuknya dengan jelas. Beberapa manfaat yang dibahas dalam literatur masih berupa potensi dan hipotesis yang terus diuji. Bukti paling kuat yang dirangkum di sini banyak berasal dari serealia, tanaman gurun, dan kondisi eksperimen tertentu.
Untuk pekebun rumahan, pelajaran terpentingnya bukan mencari gumpalan tanah paling tebal. Pelajaran yang lebih berguna adalah memahami bahwa akar bukan benda pasif. Di sekitar akar terjadi hubungan rumit antara tanah, air, senyawa yang dilepas akar, dan mikroorganisme.
Jadi, lain kali Anda melihat tanah menempel kuat pada akar setelah mencabut rumput atau jagung muda, Anda sudah tahu bahwa gumpalan itu mungkin sedang memperlihatkan sebuah fenomena bernama rhizosheath.
🌿 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!
Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!
▶ Subscribe Sekarang – Gratis!Sumber Penelitian dan Referensi
- Ndour, P. M. S., Heulin, T., Achouak, W., Laplaze, L., & Cournac, L. (2020). The rhizosheath: from desert plants adaptation to crop breeding. Plant and Soil, 456, 1–13.
- Galloway, A. F., Akhtar, J., Burak, E., et al. (2022). Altered properties and structures of root exudate polysaccharides in a root hairless mutant of barley. Plant Physiology, 190(2), 1214–1227.
- Brown, L. K., George, T. S., Neugebauer, K., & White, P. J. (2017). The rhizosheath – a potential trait for future agricultural sustainability occurs in orders throughout the angiosperms. Plant and Soil, 418, 115–128.
- Addesso, R., Sofo, A., & Amato, M. (2023). Rhizosheath: Roles, Formation Processes and Investigation Methods. Soil Systems, 7(4), 106.
- Li, Y., Hong, Y., Chen, Y., et al. (2024). Rhizosheath Formation and Its Role in Plant Adaptation to Abiotic Stress. Agronomy, 14(10), 2368.
Catatan gambar: Sebagian gambar pendukung artikel dapat dibuat menggunakan AI. Mohon maaf apabila hasil gambar yang dihasilkan kurang akurat terhadap bentuk, warna, proporsi, atau kondisi biologis objek sebenarnya.
Anda sudah membaca Kenapa Tanah Menempel di Akar Tanaman? Mengenal Rhizosheath dan Bedanya dengan Root Ball





