Iklan

Kerikil di Dasar Pot: Mitos Lama, Diuji dengan Data 2025

Thumbnail tentang kerikil di dasar pot, lapisan drainase, dan hasil riset 2025
Kerikil di dasar pot: mitos lama diuji kembali oleh riset 2025.

Selama bertahun-tahun, pekebun mendapat dua nasihat yang saling bertolak belakang: sebagian menyarankan kerikil di dasar pot agar air cepat keluar, sementara yang lain menyebutnya mitos yang justru membuat media lebih basah. Pada 2025, sebuah penelitian yang terbit di jurnal PLOS ONE menguji lapisan drainase langsung pada pot. Hasilnya menarik—tetapi tidak sesederhana “kerikil selalu bagus” atau “kerikil selalu buruk”.

Kerikil di Dasar Pot untuk Apa? Riset 2025 Menguji Mitos Drainase

1. Kenapa air bisa tertahan di dasar pot?

Penampang pot tanaman yang memperlihatkan media tanam lembap di dekat lubang drainase
Air tidak seluruhnya langsung keluar setelah penyiraman; sebagian tertahan di pori media dekat dasar pot.

Setelah pot disiram, air memang akan mengalir keluar melalui lubang di bagian bawah. Namun, tidak semua air langsung keluar. Sebagian tetap tertahan di pori-pori media, terutama di bagian bawah pot. Dalam ilmu fisika media tanam, zona jenuh ini dikenal sebagai perched water table.

Air bergerak ke bawah karena gravitasi, tetapi gaya kapiler di pori-pori media juga menahan dan menarik air. Keseimbangan kedua gaya itu membuat sebagian zona bawah tetap lebih basah setelah air bebas berhenti menetes.

Konsekuensinya, dua pot berisi media yang sama tidak selalu memiliki proporsi kelembapan yang sama. Pada pot yang lebih dangkal, zona jenuh dengan tinggi serupa dapat mengambil bagian lebih besar dari keseluruhan volume pot. Itulah salah satu alasan mengapa pemilihan tinggi pot dan karakter media perlu dipertimbangkan bersama.

Konsep perched water table ini nyata dan tetap berlaku. Perdebatan ilmiahnya bukan apakah zona basah tersebut ada, melainkan apakah menambahkan lapisan bahan lain di bawah media akan memperburuk atau justru mengurangi air yang tertahan.

2. Kenapa lapisan kerikil pernah disebut mitos?

Dalam panduan berkebun yang banyak dibagikan sejak tahun 2000-an, pakar hortikultura penyuluhan Linda Chalker-Scott dari Washington State University memopulerkan anjuran untuk melewatkan lapisan kerikil di dasar pot. Argumennya bertumpu pada prinsip pergerakan air ketika melewati batas antara bahan berpori dengan ukuran partikel berbeda.

Menurut penjelasan teori tersebut, air dari media yang lebih halus tidak selalu langsung masuk ke lapisan yang jauh lebih kasar. Media di atasnya dapat menjadi sangat basah terlebih dahulu. Dari sini muncul peringatan bahwa kerikil mungkin mengangkat posisi zona jenuh dan tidak membantu drainase sebagaimana yang dibayangkan.

Ada satu perbedaan penting: sebagian besar dasar teori awal berasal dari kajian pergerakan air melalui tanah dan lapisan bertekstur berbeda, bukan dari eksperimen langsung pada pot tanaman rumahan dengan lapisan dasar tipis. Teori fisika itu relevan, tetapi penerapannya pada pot tetap perlu diuji dalam kondisi pot yang sesungguhnya.

Karena itulah, kalimat “lapisan kerikil pasti memperburuk drainase” terlalu mutlak. Sebaliknya, menyimpulkan bahwa semua jenis lapisan dasar pasti membantu juga terlalu luas. Untuk menjawabnya, kita perlu melihat bahan, ketebalan, dan jenis media yang benar-benar diuji.

3. Apa yang ditemukan riset pot tahun 2025?

Pot transparan dengan media tanam dan lapisan bahan drainase berbutir kecil di bagian bawah

Pada 25 Februari 2025, Avery Rowe menerbitkan penelitian Effect of drainage layers on water retention of potting media in containers di PLOS ONE. Penelitian ini secara langsung mengukur air yang tertahan dalam pot setelah media dibasahi hingga jenuh lalu dibiarkan mengalir bebas.

Peneliti memakai pot transparan berkapasitas sekitar 1.290 ml dengan satu lubang drainase berdiameter 10 mm. Tiga media tanam dibandingkan: media berbasis loam atau tanah, campuran 70% serat kelapa (coir) dan 30% vermikulit, serta campuran 60% serat kelapa, 20% perlit, dan 20% kulit kayu pinus. Empat bahan lapisan drainase—kerikil hortikultura 4–10 mm, LECA 4–10 mm, butiran LECA 2–4 mm, dan bahan berbutir 1–2 mm yang dipasarkan sebagai pasir akuarium dalam studi tersebut—diuji pada dua ketebalan, 30 mm dan 60 mm. Totalnya ada 24 kombinasi; sebagian besar kondisi diulang 10 kali.

Hasilnya tidak identik pada semua media. Ringkasan di bawah ini mengikuti hasil yang dilaporkan peneliti, bukan angka yang dibuat-buat untuk menyederhanakan perbandingan.

Perbandingan tekstur media berbasis loam, campuran serat kelapa dan vermikulit, serta serat kelapa perlit dan kulit kayu pinus
Jenis media dalam studiHasil utama lapisan drainase
Media coir–perlit–kulit kayu pinus (CPB), paling porous di antara tiga media yang diujiSemua kombinasi lapisan menurunkan retensi air total secara signifikan dibanding kontrol (p < 0,001). Kedua model estimasi juga menunjukkan retensi air pada media itu sendiri menurun.
Media coir–vermikulit (CV)Lapisan 60 mm secara konsisten menurunkan retensi air total. Lapisan 30 mm sebagian besar tidak berbeda signifikan dari kontrol, kecuali bahan pasir akuarium 1–2 mm yang menurunkannya secara signifikan (p < 0,001).
Media berbasis loam (JI), paling padat di antara tiga media yang diujiSebagian besar lapisan tidak mengubah retensi air total secara signifikan. Pengecualiannya, LECA 30 mm meningkatkan retensi air total (p < 0,05), sedangkan pasir akuarium 1–2 mm setebal 60 mm menurunkannya (p < 0,01). Dua model untuk retensi air media saja tidak sepenuhnya sepakat; penulis menilai model batas bawah lebih cocok dengan pengamatan visual.

Sumber tabel: diringkas dari Rowe (2025), PLOS ONE, 20(2): e0318716. Tabel ini merangkum hasil kualitatif yang dilaporkan dalam studi, bukan data mentah pengukuran.

Apa bahan yang paling konsisten dalam pengujian itu?

Di antara bahan yang diuji, lapisan setebal 60 mm dari bahan berbutir 1–2 mm—disebut pasir akuarium dalam metode penelitian—menjadi pilihan yang paling konsisten mengurangi retensi air pada ketiga media. Lapisan yang lebih tebal cenderung memberi pengurangan retensi air lebih besar daripada lapisan yang lebih tipis, meskipun dampaknya tetap bergantung pada media tanam.

Ini bukan berarti kerikil besar selalu gagal, atau setiap pot harus diisi lapisan setebal 6 cm. Hasil tersebut hanya berlaku untuk bahan, media, bentuk pot, dan kondisi eksperimen yang benar-benar digunakan. Dalam media berbasis loam, misalnya, sebagian besar perlakuan tidak mengubah retensi air total secara signifikan.

Batasan riset yang tidak boleh dilewatkan

Studi ini mengukur retensi air setelah media mencapai kondisi jenuh penuh dan kemudian mengalir bebas. Peneliti tidak menguji pertumbuhan tanaman hidup secara langsung. Penyiraman sehari-hari juga tidak selalu membuat seluruh media mencapai kejenuhan 100 persen seperti dalam pengujian tersebut.

Penelitian itu memberi bukti eksperimental yang penting, tetapi belum menjawab apakah setiap tanaman akan tumbuh lebih baik dengan lapisan dasar tertentu. Peneliti sendiri menyatakan perlunya pengujian lanjutan pada tanaman hidup serta kajian lebih rinci mengenai sifat pori dan mekanisme pergerakan air.

4. Jadi, kerikil di dasar pot untuk apa?

Jawaban yang paling sesuai dengan bukti adalah: lapisan dasar dapat memengaruhi jumlah air yang tertahan, tetapi efeknya bergantung pada bahan, ketebalan, dan media tanam. Riset 2025 menunjukkan bahwa lapisan drainase biasanya menurunkan atau tidak mengubah retensi air total, dan hampir tidak pernah meningkatkannya secara signifikan. Namun, hasil yang berbeda pada media loam mengingatkan kita untuk tidak mengubah temuan itu menjadi aturan universal.

Karena itu, pertanyaan “kerikil di dasar pot untuk apa?” sebaiknya tidak dijawab hanya dengan “untuk drainase” atau “jangan pernah pakai kerikil”. Pertanyaan lanjutannya adalah: bahan apa, seberapa tebal, media apa yang berada di atasnya, dan apakah pot itu cukup tinggi untuk menampung media serta akar tanaman?

Hal yang tidak boleh dilupakan: lapisan dasar bukan pengganti lubang drainase. Pastikan pot memiliki lubang yang terbuka dan air dapat keluar. Jika media tanam mudah lolos dari lubang, penutup berupa jaring mesh yang tetap berpori dapat dipertimbangkan—jangan sampai lubangnya justru tersumbat rapat.

Bagian bawah pot tanaman dengan lubang drainase terbuka dan jaring mesh berpori

5. Apakah pasir Malang bisa menjadi alternatif?

Butiran pasir Malang berpori dalam beberapa ukuran di samping pot tanaman berlubang

Untuk pekebun Indonesia, pasir Malang sering dijumpai sebagai bahan media tanam yang berpori dan tersedia dalam beragam ukuran butir. Secara prinsip, karakter bahan mineral berpori membuatnya layak dipertimbangkan sebagai bahan pembanding. Namun, pasir Malang tidak sama secara otomatis dengan bahan berbutir 1–2 mm yang digunakan dalam penelitian Rowe.

Studi tersebut memakai bahan yang dipasarkan sebagai pasir akuarium berukuran 1–2 mm, bukan pasir Malang. Dalam penelusuran sumber untuk artikel ini, belum ditemukan jurnal akademik Indonesia yang secara khusus menguji pasir Malang sebagai lapisan drainase terpisah di dasar pot. Jadi, jangan menyebut pasir Malang sudah terbukti secara ilmiah setara dengan bahan uji tersebut.

Jika ingin mencoba pasir Malang, perhatikan gradasi ukuran yang dijual karena tidak semua kemasan memiliki ukuran butir seragam. Pilih bahan bersih dengan ukuran yang sesuai, dan uji pada sebagian pot terlebih dahulu sambil mengamati seberapa cepat media mengering. Jangan langsung menganggap lapisan 6 cm sebagai resep untuk semua pot—terutama pada pot dangkal, lapisan setebal itu akan mengambil bagian cukup besar dari ruang yang tersedia bagi media utama.

6. Cara mengatasi pot tanaman becek dengan langkah yang lebih tepat

Jika pot tetap becek atau tanaman layu meskipun rutin disiram, jangan langsung menambahkan kerikil sebagai satu-satunya solusi. Mulailah dari hal-hal yang dapat diperiksa tanpa mengandalkan dugaan.

  1. Periksa lubang drainase. Pastikan air dapat keluar dan lubang tidak tersumbat. Buang air yang tertampung di tatakan setelah penyiraman agar dasar pot tidak terus berada dalam genangan.
  2. Periksa kelembapan sebelum menyiram lagi. Jangan berpatokan pada jadwal harian saja. Cek bagian dalam media dengan jari atau stik kayu bersih; jika bagian yang diperiksa masih terasa lembap, tunda penyiraman dan amati kembali kondisinya.
  3. Evaluasi media tanam. Media yang terlalu padat atau memadat setelah sering disiram layak dievaluasi. Pilih campuran yang tetap menahan air sesuai kebutuhan tanaman, tetapi juga menyediakan ruang pori untuk pergerakan udara. Campuran coir dan vermikulit serta coir–perlit–kulit kayu pinus dalam studi adalah dua jenis media berbeda—bukan campuran cocopeat dan sekam yang otomatis setara.
  4. Amati gejala tanaman bersama kondisi media. Daun menguning atau layu tidak dengan sendirinya membuktikan akar busuk. Periksa kelembapan, cahaya, lubang drainase, dan kondisi akar sebelum menentukan tindakan. Panduan tambahan ada di artikel Daun Tanaman Menguning? Ini Penyebab dan Solusi Cepat.
  5. Periksa akar saat masalah berulang. Jika media tidak kunjung mengering atau air langsung mengalir tanpa membasahi media dengan baik, evaluasi kondisi akar dan kepadatan akar di dalam pot. Baca juga penjelasan hidrotropisme dan akar tanaman pot yang melingkar di dekat lubang drainase.

Untuk memahami pilihan bahan penggembur yang tercampur ke seluruh media—bukan sekadar ditumpuk di bagian bawah—Anda juga bisa membaca artikel Kulit Kacang Tanah Jadi Pengganti Perlit. Artikel tersebut membahas pendekatan berbeda untuk memperbaiki struktur media; jangan menyamakan bahan campuran itu dengan lapisan drainase yang diuji Rowe.

7. Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah riset 2025 membuktikan kerikil di dasar pot selalu bagus?

Tidak. Penelitian menemukan lapisan drainase biasanya menurunkan atau tidak mengubah retensi air total dalam kondisi uji, tetapi dampaknya berbeda menurut media dan bahan. Penelitian itu juga tidak mengukur pertumbuhan tanaman hidup secara langsung.

Apakah pasir akuarium 1–2 mm lebih baik daripada kerikil besar?

Dalam eksperimen tersebut, bahan berukuran 1–2 mm setebal 60 mm adalah pilihan yang paling konsisten mengurangi retensi air pada ketiga media yang diuji. Itu bukan bukti bahwa bahan tersebut selalu terbaik untuk semua tanaman, pot, dan kondisi penyiraman.

Apakah pecahan bata atau pecahan pot tanah liat memberikan hasil yang sama?

Studi Rowe tidak menguji pecahan bata maupun pecahan pot tanah liat. Karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa kedua bahan tersebut memberikan efek yang sama seperti bahan uji.

Apakah pasir Malang terbukti sama dengan bahan yang diuji?

Belum. Pasir Malang hanya dapat dibahas sebagai bahan lokal yang memiliki karakter fisik tertentu; penelitian yang dirujuk tidak menggunakan pasir Malang dan tidak menguji bahan itu sebagai lapisan drainase terpisah.

8. Kesimpulan: bukan sekadar pakai atau tidak pakai kerikil

Perdebatan tentang lapisan drainase di dasar pot mendapat bukti eksperimen langsung yang penting pada 2025. Penelitian Avery Rowe menunjukkan bahwa lapisan drainase hampir selalu menurunkan atau tidak mengubah retensi air total—bukan hampir selalu meningkatkannya seperti yang pernah diprediksi. Bahan berukuran 1–2 mm setebal 60 mm menjadi perlakuan yang paling konsisten pada tiga media yang diuji.

Tetapi hasil itu punya batas: media yang digunakan spesifik, kondisi pengujian dimulai dari kejenuhan penuh, dan pertumbuhan tanaman hidup tidak diukur. Pasir Malang juga belum diuji langsung dalam konteks yang sama. Jadi, jangan mengganti satu mitos dengan klaim mutlak yang baru.

Untuk berkebun di rumah, mulai dari lubang drainase yang berfungsi, media yang sesuai, dan penyiraman berdasarkan kondisi kelembapan. Jika hendak bereksperimen dengan lapisan dasar, lakukan secara terbatas dan amati hasilnya—karena jenis bahan dan media tanam sama-sama menentukan.

🌿 Mari Dukung Gerakan Kembali ke Organik!

Subscribe channel YouTube Putune Pak Tani agar tidak ketinggalan video terbaru seputar bertani/berkebun organik!

▶ Subscribe Sekarang – Gratis!

Daftar Sumber dan Referensi

  1. Rowe, A. (2025). Effect of drainage layers on water retention of potting media in containers. PLOS ONE, 20(2): e0318716. DOI: 10.1371/journal.pone.0318716.
  2. Rowe, A. (2025). The myth of the myth of drainage layers in containers. Tradescantia Hub. Penjelasan populer dari penulis studi mengenai metode, hasil, dan batasan penelitian.
  3. Chalker-Scott, L. The Myth of Drainage Material in Container Plantings. Washington State University, Puyallup Research & Extension Center. Lembar fakta yang mewakili pandangan lama tentang lapisan drainase.
  4. Chalker-Scott, L. & Downer, A. J. (2019). Soil Myth Busting for Extension Educators: Reviewing the Literature on Soil Structure and Functionality. Journal of the NACAA, 12(2).

Catatan gambar: sebagian gambar pendukung artikel dibuat menggunakan AI. Mohon maaf apabila terdapat ketidakakuratan visual yang tidak sepenuhnya mewakili kondisi nyata.

Anda sudah membaca Kerikil di Dasar Pot: Mitos Lama, Diuji dengan Data 2025